Meski Berat Peluang Musik Indonesia Tetap Terbuka di Era Industri 4.0

Oleh : amazon dalimunthe | Senin, 17 Desember 2018 - 10:48 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - JAKARTA,-- Meski tantangan yang dihadapi semakin berat, peluang musik  (musisi) Indonesia untuk ambil bagian secara ekonomi tetap terbuka di Era Industry  4.0. Demikian kesimpulan secara global hasil diskusi music yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Hiburan (Forwan) Indonesia yang dilangsungkan di Studio of Stars, lobby GPO TVRI, Senayan, Jakarta, Sabtu (15/12) petang.

Acara diskusi musikm jelang menutup tahun 2018, terselenggara berkaat kerjasama Forwan  dengan Nagaswara Musik, Ascada Musik, Pro Aktif, Humas TVRI, PT. Kino Indonesia Tbk, PT Mayora Indonesia Tbk, dan  Papa Ron's Pizza.

Diskusi Musik dengan mengangkat tema "Masa Depan  Industri Musik Digital  di Era Industri. 4.0 menghadirkan narasumber Rahayu Kertawiguna (CEO Nagaswara Musik) Agi Sugiyanto (CEO Pro Aktif), Naratama (Produser Voice Of America, New York),  Rummy Aziez, Produser Jagonya Musik & Sport Indonesia (Partners Distribusi KFC) dan Seno M Hardjo.(Target Pop)

Agi Sugiyanto yang mengangkat tema Masa Depan Penyanyi Pendatang di Era Industri Digital 4.0. Sebagai produser yang mengawali bisnis musiknya dengan memproduseri sekaligus manajemen Trio Macan ini mengatakan, peluang penyanyi pendatang terbuka lebar. Karenanya Agi sampai sekarang masih suka blusukan ke berbagai daerah dan melakukan pemantauan di sosial media untuk mencari penyanyi baru untuk diorbitkan menjadi penyanyi masa depan.

"Sekarang jauh lebih gampang, majunya teknologi informasi sehingga saya dan tim gampang memantau penyanyi pendatang yang lagi menjadi viral di media sosial. Kalau di rasa bakal bisa dijadikan artis populer langsung kontrak," papar Agi.

Selain memantau calon penyanyi orbitannya via medsos, ia juga sering didatangi para penyanyi yang minta diorbitkan. "Syaratnya mesti cantik, seksi dan jumlah followernya besar. Kalau mau cara ekstrim, kalau cantik ya cantik sekalian, atau sebaliknya. Biasanya lebih gampang mengorbitkan," ujar mantan wartawan ini.

Sementara itu Rahayu Kertawiguna, mengungkapkan, NAGASWARA yang eksis di tahun 1999 dengan genre house music International, juga house remix lokal, melalui era digital ini harus mengedepankan sisi kreatif yang inovatif. Bahkan saking kreatifnya dalam merilis produk musiknya, banyak kritikan yang pada akhirnya justru menjadi sebuah penghasilan ekonomis  dan brand yang eksklusif baik dalam kemasannya yang menjadikan trend musik dangdut ke depan.

Jadi menurut Rahayu bila ingin bisa bertahan dan menerobos di era industri 4.0 pelaku industri musik harus berani lakukan inovasi dan menghadirkan musik yang berbeda. "Peluang itu tetap ada, harus melakukan inovasi dan mengikuti terobosan generasi milenial. Promosi secara gencar di media sosial dengan kemasan generasi yang kekinian," tegas Rahayu.

Rummy Aziez tetap optimis kalau penjualan musik dalam bentuk fisik seperti CD masih diburu penggila musik. "Penjualan musik dalam bentuk CD masih laku keras di KFC,  meski tidak sedahsyat dulu. Tapi peluang itu tetap ada, meski era industri 4.0 terus merangsek" kata Rummy Aziez.

Rummy menambahkan jagonya musik n sport indonesia kini  juga  membangun app's digital musik yang rencana di launching di tahun 2019. "Untuk mengantisipasi era industri 4.0 Jagonya musik dan sport tengah membangun app's Digital. Insya Allah diluncurkan tahun 2019 mendatang," papar Rummy.

Seno M. Hardjo,  CEO Target Pop,  memiliki strategi dalam menghadapi era Digital Market. Menurutnya, era Musik Digital itu sebuah gerak budaya industri yang sinergis. Pelaku industry music wajib ikut arus, jika ingin tetap survive. Musik yang ditampilkan, kemasan artis dan cara berpromosinya sudah satu bulatan paket. Tidak bisa setengah setengah. “Musiknya simple dan harus yang cepat tangkap. Tampilan artisnya wajib kekinian dan Medsos sangat berperan dalam promosinya,” ujar Seno M. Hardjo salah satu BOD AMI Awards

Produser VOA seksi Indonesia,  Naratama menjelaskan meski industri musik fisik terjun bebas tapi peluang bisnis musik digital terbuka lebar. "Buktinya, efek band Rumah Kaca tanpa harus promosi, tanpa harus berbahasa inggris bisa menembus pasar AS, music Indonesia bisa masuk," ujar Naratama.

Musisi Indonesia mestinya meniru musisi Korea Selatan, yang berhasil masuk ke pasar Amerika hingga dunia tetap dengan nuansa dan bahasa Korea. "Musik dengan jati dirinya, jangan justru bawa bahasa dan budaya mereka. Nggak kemakan, buktinya penyanyi Korea dengan bahasa Korea nya justru menjadi perhatian dunia," papar Naratama. (AMZ)

Amazon Dalimunthe Lihat semua artikel →