Integrasi Tol untuk Meningkatkan Penggunaan Transportasi Publik

Oleh : Dina Astria | Selasa, 03 Juli 2018 - 08:00 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Penerapan integrasi tol jalan lingkar luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road) diharapkan mampun meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakana transportasi publik.

"Jumlah pengendara pribadi diakui memang mendominasi ruas jalan tol. Untuk itu, pemerintah memberikan alternatif, yaitu silakan memakai jalan arteri dan angkutan umum.

Dengan kondisi saat ini kami sudah mulai berpikir untuk melakukan kebijakan push (mendorong) supaya orang berpindah dari angkutan pribadi ke angkutan umum," ungkap Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan Bambang Prihartono.

Demikian disampaikan Bambang Prihartono dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB 9) dengan tema "Integrasi Tol Dukung Sistem Logistik Nasional" di Ruang Serba Guna Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Senin (02/07/2018).

Untuk itu, Bambang menyatakan pihak BPJT menyatakan perang terhadap kemacetan di jalan tol maupun jalan non-tol. Salah satunya, pemerintah terus memperbaiki kinerja di jalan tol berdasarkan Key Indicator Perfomance (KIP) yakni 40 km per jam di jalan tol dan melakukan rekayasa lalu lintas di jalan arteri/nasional dengan kebijakan nomor polisi ganjil/genap atau Contra Flow di hari tertentu.

Kementerian Perhubungan berusaha terus dengan kebijakan push dan mengedukasi masyarakat agar memakai transportasi umum. Bayangkan, kerugian ekonomi akibat kemacetan di Jabodetabek bisa mencapai Rp100 triliun per tahun.

BPJT Jabodetabek sejauh ini baru memberlakukan manajemen lalu lintas atau rekayasa lalu lintas. Pemerintah belum berpikir untuk membuat jalan tol baru di wilayah Jabodetabek. "Kita gunakan infrastruktur yang ada. Persoalan manajemen lalu lintas juga terkait banyak faktor. Misalnya, kami menemui OJK agar industri otomotif menerapkan uang muka pembelian yang mahal." ujar Bambang.

Melalui momentum Asian Games 2018 inilah, menurut Bambang Prihartono, diharapkan akan mengubah pola pikir dan budaya warga Jabodetabek untuk menggunakan transportasi publik. Melalui kebijakan lalu lintas ganjil-genap selama Juli dan Agustus ini serta penyediaan bus Transjakarta bagi masyarakat untuk menuju venue pertandingan Asian Games. "Dari hitungan BBM saja akan turun sekitar Rp3 miliar-Rp4 miliar sehari dari kebijakan ganjil-genap yang diperluas selama Asian Games ini," tukasnya.

Satu hal, Kemenhub akan menyediakan 1.000 Bus di permukiman untuk memeningkatkan aksebilitas masyarakat perkotaan dari permukiman ke kota.

Turut hadir sebagai narasumber FMB 9 kali ini Ketua Tim Pelaksana Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) Kemenko Perekonomian Wahyu Utomo, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Heri Trisaputra Zuna, dan Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna.

Dina Astria Lihat semua artikel →