Pilot Paralayang Merasakan Perubahan Saat Dilatih Bruce Goldsmith
INDUSTRY.co.id - Wonogiri- Hening “Digma” Paradigma, pilot putra pemegang rekor nasional lintas alam jarak terbuka (Open Distance XC) sejauh 109 km dari Wonogiri ke Pati, Jawa Tengah pada 2012, merasakan perubahan sangat berarti dalam teknik terbangnya setelah diasah Bruce Goldsmith, Juara Dunia Lintas Alam Paralayang 2007 yang juga pelatih Platnas Paralayang AG 2018.
“Tadinya aku ragu-ragu terbang kencang, maksimal 70 kilometer per jam. Bruce malah suruh saya tancap gas, 100 kilo juga ngga masalah. Yang penting terbang dengan cerdas, tahu kapan harus kencang dan siap mengurangi kecepatan bila harus berbelok dan berputar,” ujarnya. Digma juga merasa tambah percaya diri menghadapi AG ’18 berbekal kiat-kiat terbang dari Bruce, seperti bagaimana keluar tanpa panik bila tersedot awan.
Ujian terakhir setelah penentuan 12 pilot (5 putri dan 7 putra) Tim Nasional (Timnas) sesuai batas waktu pendaftaran atlit peserta AG ’18 berdasarkan nama (Entry By Name) pada 30 Juni, adalah di ajang Seri III Piala Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (PGAWC/Para Gliding Accuracy World Cup) 2018 di Gunung Banyak, Batu, Malang, Jawa Timur, 13-15 Juli. Diperkirakan para calon peserta AG ’18 akan ramai-ramai hadir menjajal kemampuan bakal lawan mereka.
Pada Seri PGAWC 2017, Indonesia memborong gelar Juara Dunia di ketiga kelas; Umum, Putri dan Beregu. Rika Wijayanti, asal Batu, Malang berhasil mengembalikan pamor pilot putri Merah Putih yang sempat sangat disegani. Ia meneruskan jejak trio srikandi Ifa Kurniawati, Milawati Sirin dan Lis Andriana yang berturut-turut menjadi juara dunia pada 2010-2014. Lis, asal Kutai, Kalimantan Timur bahkan mencetak hattrick, menjadi juara dunia pada 2012-2014.
Namun, para pilot Pelatnas tak boleh jemawa, puas dan sombong dengan pencapainnya tahun silam. Harus diingat, Thailand, pesaing kuat di nomor Ketepatan Mendarat/KTM tidak mengikuti Seri PGAWC 2017. Pada Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Antar Negara (WPAC) 2015 di Puncak, Jawa Barat, Thailand memborong dua emas; di Kelas Beregu dan Kelas Putri atas nama pilot seniornya Nunnapat “Bebbie” Phuchong. Dede Supratman berhasil menyelamatkan wajah tuanrumah dengan merebut juara Kelas Umum. Sedang di Kelas Beregu Indonesia meraih perunggu. Dicurigai menyimpan kekuatan agar tidak diketahui lawan, ketika ditanya kenapa pilot Thailand absen dari Seri PGAWC 2017, sambil tertawa Bebbie berujar, “Tidak ada biaya.” Karena lebih bersifat kejuaraan perorangan, peserta Seri PGAWC memakai dana pribadi atau mencari sponsor. Sedangkan Pelatnas dibiayai Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) karena termasuk persiapan AG ’18.
Seri PGAWC memakai format seperti balapan Formula 1, berpindah ke beberapa negara. Tahun ini terdapat 6 seri sampai pertengahan Desember; Turki, Kazakhstan, Indonesia, Kanada, Nepal dan Albania. Hingga Seri II, pencapaian tertinggi pilot Pelatnas adalah Ike Ayu Wulandari diperingkat pertama Kelas Putri, disusul Eka Nesti Wulansari sebagai runner up. Sedangkan di Kelas Umum (gabungan nilai seluruh pilot putri dan putra), Jafro Megawanto masih di peringkat ketiga.
Informasi yang diperoleh dari Tagor Siagian, Humas PB FASI menyatakan bahwacabang Paralayang AG ’18 akan berlangsung 18-31 Agustus di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat, diikuti sekitar 120 pilot asal 16 negara. Memperebutkan 6 medali emas dari nomor-nomor Ketepatan Mendarat/KTM Perorangan Putri dan Putra, KTM Beregu Putri dan Putra serta XC Beregu Putri dan Putra. Pesaing tuanrumah Indonesia dalam nomor XC adalah Jepang dan Korea Selatan. Sedangkan di nomor KTM; Thailand dan Korea Selatan.
Pelatnas Paralayang Indonesia untuk Asian Games XVIII 2018:
Putri:
- Eka Nesti Wulansari (Jawa Tengah, 24 tahun)
- Ike Ayu Wulandari (Jawa Timur, 22)
- Rika Wijayanti (Jawa Timur, 23)
- Lis Andriana (Kalimantan Timur, 34)
- Dr. Milawati Sirin (Jawa Barat, 47)
- Nofrica Yanti (Sumatera Barat, 33)
- Rina Kusumaningrum (Sumatera Barat, 30)
- Tini Pertiwi (Jawa Tengah, 23)
Putra:
- Aris Afriansyah (Banten, 23)
- Hening Paradigma (Jawa Tengah, 31)
- Dr. Elisa Manueke (Jawa Tengah, 56)
- Ardi Kurniawan (Jawa Timur, 28)
- Thomas Widyananto (Jawa Tengah, 40)
- Roni Pratama (Jawa Timur, 21)
- Joni Efendi (Jawa Timur, 27)
- Jafro Megawanto (Jawa Timur, 21)
- Reza Christiyanto, S.Pi (Jawa Timur, 33)
- Indra Lesmana (DKI Jaya, 22)