Apresiasi Rupiah Terhadap Dolar AS Masih Jadi Katalisator Positif bagi Pergerakan IHSG

Oleh : Abraham Sihombing | Rabu, 30 Mei 2018 - 09:18 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Sebelum Indonesia mengalami krisis keuangan pada 1998, kinerja pasar modal Indonesia senantiasa berbanding terbalik dengan kinerja pasar uang. Jika tren pasar modal sedang meningkat, maka banyak dana yang mengalir dari pasar uang ke pasar modal sehingga kondisi itu mengakibatkan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jadi melemah, demikian pula sebaliknya.

Akan tetapi pasca krisis keuangan dan memasuki era reformasi di bidang hukum, politik dan ekonomi, kinerja kedua pasar keuangan tersebut kini menjadi sejajar atau paralel. Jika tren pasar modal sedang naik, maka salah satu faktor pendukung kenaikan pasar modal adalah menguatnya kurs rupiah terhadap dolar AS, demikian pula sebaliknya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup naik 1,55% atau 92 poin ke posisi 6.068 pada Senin (28/05/2018) atau sehari sebelum libur Hari Raya Waisak 2562 yang jatuh pada Selasa (29/05/2018) dibandingkan posisi pada penutupan pada akhir pekan lalu di level 5.975.

Para pelaku pasar pada umumnya berpendapat bahwa menguatnya indeks hingga sebesar 1,5% sebelum liburan Waisak kemarin disebabkan melemahnya kurs dolar AS terhadap rupiah sebesar 0,32% menjadi 14.001 per dolar AS dibandingkan sebelumnya sebesar 14.046 per dolar AS.

Menurut para pelaku pasar, pasar merespon positif terhadap langkah yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) yang menaikkan tingkat suku bunga acuan 7-Day Repo sebesar 25 basis poin ke posisi 4,5% sehingga kurs rupiah terapresiasi terhadap dolar AS.

Setelah berhasil menenangkan pasar uang terutama terhadap rupiah, BI akan kembali mengevaluasi langkah kebijakan yang diambil beberapa waktu lalu melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI insidentil pada hari ini, Rabu (30/05/2018).

“RDG insidentil ini perlu diselenggarakan karena mempertimbangkan kenaikan suku bunga AS akan mendorong kenaikan imbal hasil (yield) surat-surat berharga negara adidaya tersebut. Jika yield obligasi pemerintah AS tersebut naik lagi, maka itu akan memperburuk pasar negara-negara berkembang,” ujar Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior BI, di Jakarta, Senin (29/05/2018).

Yield obligasi pemerintah AS, yakni US Treasury, berjangka 10 tahun hingga 28 Mei 2018 ditetapkan sebesar 2,931. Kenaikan suku bunga tersebut dicemaskan karena dapat menjadi pemicu mengalirnya dana asing keluar meninggalkan Indonesia. Adapun yield Surat Utang Negara (SBN) berjangka 10 tahun ditetapkan sebesar 7,153 di periode yang sama. Itu berarti, selisih imbal hasil SBN 10 tahun dengan US Treasury 10 tahun sebesar 4,222.

RDG yang digelar hari ini tampaknya akan mendiskusikan berbagai langkah untuk mengantisipasi langkah Bank Sentra AS, Federal Reserve, yang memutuskan untuk kembali menaikkan tingkat suku bunga mereka dalam rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dilakukan pada pertengahan Juni 2018.

Bank Sentral AS itu telah menaikkan suku bunga yang pertama kali di tahun ini pada Maret lalu sebesar 0,25% ke posisi 1,5-1,7%. Akan tetapi bank sentral itu memutuskan kebijakan tersebut untuk mempertahankannya pada Mei lalu.

Hingga kini, berbagai dana asing yang berada di pasar keuangan Indonesia mencapai Rp800 triliun. Karena itu, agar berbagai dana asing itu dapat tetap bertahan di Indonesia, maka BI tidak banyak pilihan selain kembali menaikkan suku bunga acuan 7-day repo rate sebesar 25 basis poin (bp) menjadi 4,75%.

Karena itu, jika RDG insidentil yang diselenggarakan hari ini akan kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan 7-day repo rate sebesar 25 basis poin, maka hal itu akan mendorong penguatan kurs rupiah terhadap dolar AS dan kondisi itu akan menimbulkan sentimen positif bagi pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini. (Abraham Sihombing)

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →