Kementan: Penguatan Dolar Pengaruhi Kenaikan Harga Daging Ayam

Oleh : Ridwan | Jumat, 11 Mei 2018 - 14:30 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kementerian Pertanian mengakui ada kenaikan yang terjadi pada daging ayam sebesar Rp500 per kilogram, demikian juga dengan telur ayam. 

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi, dalam diskusi media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk "Ketersediaan Stok Pangan Jelang Ramadhan 2018" yang diselenggarakan di Gedung Serba Guna Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Jumat (11/5/2018).

“Kenapa naik karena harga pangan naik, yakni antara Rp100-150 per kilogram. Itu terjadi karena ada penguatan dolar, yang berpengaruh terhadap pakan, khususnya konsentrat yang memang masih impor,” ujar Agung. 

Namun, Agung menegaskan, siang ini akan digelar pertemuan dengan produsen ayam dan telur. “Semoga saja soal kenaikan harga ini bisa dikendalikan,” katanya. 

Kendati mengalami kenaikan, Agung mengatakan, harga telur ayam pun hampir sama dibanding 2017. 

Terkait upaya menstabilkan harga dan pasokan, Agung mengatakan, ada sejumlah langkah sinergis yang dilakukan Kementan bersama Bulog dan Kemendag. Di antaranya, sambung dia, pembukaan lapak di pasar untuk meng-influence supaya harga tidak naik. 

Pemerintah juga, menurut Agung, menggelar bazar pasar murah, monitoring harian, dan pasar e-commerce bahan pokok pertanian. Yakni, kata dia, khsusnya beras jagung, bawang, cabe, daging ayam. 

Selama ini, menurut Agung, ada pula program pemberdayaan lumbung pangan masyarakat. Diketahui, selama ini Bulog merupakan pemegang beras cadangan pemerintah, maksimum 5 persen dari produksi. 

“Tapi masyarakat nyatanya juga bisa menjadi instrumen untuk memegang cadangan beras. Kini ada 3.000 lumbung pangan masyarakat. Kalau masing-masing menyimpan 50 ton saja, sudah cukup kebutuhan mastarakat. Jadi mekanismenya, saat tidak panen, petani boleh pinjam, saat panen petani itu menggantinya," tuturnya.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →