BI: Industri Padat Karya Ekspor Perlu Didorong
INDUSTRY.co.id - Yogyakarta- Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menilai industri padat karya (labor-intensive industries) berorientasi ekspor perlu terus didorong agar mampu menjadi salah satu kunci untuk menjaga ketahanan nilai tukar Rupiah.
"Industri manufaktur kita identik dengan padat karya. Kenapa kita perlu dorong, karena industri padat karya seperti makanan dan minuman, dan juga tekstil, kalau berkembang itu ada ikutannya," ujar Mirza dalam Seminar Nasional "Pengembangan dan Pembiayaan Industri Padat Karya Berorientasi Ekspor" di Yogyakarta, Senin (7/5/2018)
Menurut Mirza, industri padat karya adalah penopang utama industri manufaktur. Ia menjelaskan konsep keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan keterkaitan ke depan (forward linkage).
Forward linkage adalah kegiatan dimana sektor unggulan tersebut mampu mendorong sektor lain supaya lebih berkembang. Sedangkan backward linkage adalah kegiatan sektor unggulan yang membutuhkan sektor lain untuk kelancaran kegiatannya.
Dalam industri padat karya seperti industri makanan dan minuman, serta industri tekstil, dalam penyediaan barang-barang yang digunakan sebagai bahan mentah dalam kedua industri tersebut, mayoritas dapat berasal dari domestik. Dengan demikian, diharapkan dengan berkembangnya industri padat karya dapat juga mendorong sektor lainnya sehingga ekonomi dapat bergerak dan tumbuh lebih baik.
Ia menambahkan, setiap kenaikan satu persen pada industri makanan dan minuman, dapat mendorong 0,67 persen kepada kegiatan backwardl linkage dan 0,71 persen kepada kegiatan forward linkage. Sedangkan, setiap kenaikan satu persen industri tekstil dan produk tekstil, dapat mendorong 0,45 persen kepada kegiatan backwardl linkage dan 0,31 persen kepada kegiatan forward linkage.
"Kalau kita bisa punya kebijakan yang tepat, bisa terbantu itu kegiatan backward and forward linkage," ujar Mirza seperti dilansir Antara.
Saat ini, industri padat karya relatif stabil dan berkontribusi rata-rata 14,2 miliar dolar AS sejak 2003 hingga 2017, di tengah pelemahan neraca perdagangan manufaktur.
Pangsa pasar ekspor industri padat karya Indonesia juga relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
Selain industri padat karya, Mirza juga menyoroti soal pengusaha kelas menengah di Indonesia yang secara persentase masih relatif sedikit yaitu hanya 5,1 persen, sedangkan sisanya 93,4 persen pengusaha kelas bawah dan 1,5 persen pengusaha kelas atas.
Negara-negara seperti Brazil sendiri memiliki pengusaha kelas menengah hingga 46,5 persen, Vietnam 27,45 persen, dan Filipina 28 persen. Mirza mengatakan, hal tersebut terjadi karena tidak adanya rantai produksi sehingga akhirnya terjadi impor yang besar dan kemudian mendorong meningkatnya permintaan dolar.
"Di sini kita harus bangun. Perbankan juga harus mendorong. Kalau punya target pembiayaan kredit, targetnya jangan hanya kredit tumbuh, tapi kredit berorientasi ekspor harus tumbuh lebih tinggi daripada yang nonekspor," ujar Mirza.