Intiland Development Bukukan Pendapatan Rp2,2 Triliun pada 2017

Oleh : Abraham Sihombing | Selasa, 27 Maret 2018 - 09:30 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – PT Intiland Development Tbk (DILD), perusahaan pengembang properti yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), mencatat pendapatan sebesar Rp2,2 triliun pada 2017, turun tipis dibandingkan dengan realisasi pendapatan 2016 sebesar Rp2,3 triliun.

“Kondisi pasar properti nasional pada umumnya belum sepenuhnya pulih pada 2017 karena masih menghadapi sejumlah tantangan. Di samping itu, konsumen dan investor cenderung masih bersikap menunggu (wait and see) perubahan kondisi pasar,” ujar Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi DILD, di Jakarta, Senin (26/03/2018).

Archied mengemukakan, segmen bisnis pengembangan kawasan industri dan recurring income (pendapatan berkelanjutan) adalah pendorong utama pencapaian kinerja keuangan DILD pada 2017. Itu karena penjualan lahan kawasan industri sepanjang tahun lalu dapat langsung dicatat sebagai pendapatan usaha.

“Segmen pengembangan kawasan industri perseroan mengalami lonjakan 578% menjadi Rp550,0 miliar pada 2017 dibandingkan pada tahun sebelumnya sebesar Rp81,3 miliar. Segmen ini menyumbang 25% dari pendapatan konsolidasi perseroan pada tahun lalu,” papar Archied.

Archied juga mengungkapkan, segmen properti investasi yang merupakan sumber recurring income memberikan kontribusi senilai Rp528,2 miliar atau 24% dari pendapatan konsolidasi DILD pada 2017.

“Jika dibandingkan dengan realisasi pada 2016 sebesar Rp347,6 miliar, maka segmen properti investasi DILD tersebut mengalami peningkatan 52% pada 2017. Itu karena peningkatan pendapatan dari sewa perkantoran dan pengelolaan fasilitas gedung dan kawasan,” tukas Archied.

Archied menjelaskan, segmen pengembangan mixed-use & high rise mencatat pendapatan usaha Rp703,6 miliar. Itu memberikan kontribusi 31,9% dari pendapatan konsolidasi DILD pada 2017. Segmen pengembangan kawasan perumahan memberikan kontribusi sebesar 19,15 atau senilai Rp420 miliar.

Menurut Archied, penjualan pada dua segmen bisnis ini masing-masing turun sebesar 37% dan 43%. Itu karena marketing sales (penjualan pemasaran-red) yang diperoleh dari kedua segmen tersebut belum dapat diakui sebagai pendapatan usaha. (Abraham Sihombing)

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →