Pasar Modal Indonesia Rentan Terhadap Kebijakan Non-Populis

Oleh : Abraham Sihombing | Kamis, 08 Maret 2018 - 09:38 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga sebesar 2,03% atau 132 poin ke posisi 6.368 pada perdagangan Rabu (07/03/2018) kemarin diiringi dengan aliran dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia sebesar Rp1,17 triliun.

Kendati hal tersebut membuat para pelaku pasar modal Indonesia menjadi tidak nyaman, tetapi Tito Sulistiyo, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, kenaikan dan penurunan indeks itu adalah indikator bagi perkembangan ekonomi dan emiten di Indonesia.

“Ada dua hal yang membebani penurunan IHSG pada perdagangan hari ini. Pertama, berlanjutnya pelemahan kurs rupiah, bahkan sebelumnya sempat mencapai Rp13.800 per dolar Amerika Serikat (AS),” ujar Tito di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Rabu (07/03/2018) petang.

Tito menjelaskan, depresiasi kurs rupiah tersebut mendorong para investor asing untuk menempatkan modal mereka di aset-aset berdenominasi dolar AS. Karena itu, investor asing membukukan penjualan bersih (net selling) yang sangat besar.

“Kedua, adanya sentimen negatif yang berasal dari wacana kebijakan pemerintah yang ingin menetapkan harga jual batu bara untuk pasokan dalam negeri. Wacana kebijakan tersebut pada akhirnya memangkas harga saham-saham pertambangan,” tukas Tito.

Tito mengungkapkan, wacana kebijakan pemerintah tersebut membuat harga-harga berbagai saham pertambangan tergerus, sehingga indeks sektor pertambangan mengalami penurunan terdalam, yaitu sekitar 3,48%. Kondisi tersebut mempengaruhi sektor-sektor perekonomian lainnya.

Kendati demikian, Tito optimistis, kondisi perekonomian Indonesia hingga kini masih cukup baik. Sekitar 70 emiten yang telah mempublikasikan laporan keuangan 2017 rata-rata meraih pertumbuhan pendapatan.

Tito juga mengakui, banyak dana di pasar modal Indonesia yang cenderung tertarik ke luar. Menurut Tito, ada beberapa alasan hal itu terjadi, yakni pertama adanya pembayaran pajak pada Maret 2018 ini dan kedua, adanya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang dilakukan secara serentah di 171 kota di Indonesia. (Abraham Sihombing)

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →