Alami Stagnasi, Industri Petrokimia Dalam Negeri Perlu Perhatian Khusus

Oleh : Ridwan | Jumat, 26 Januari 2018 - 07:25 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Industri petrokimia dalam negeri tidak mengalami perkembangan yang signifikan dalam dua dekade terakhir. Salah satu penyebabnya adalah ketersediaan bahan baku di dalam negeri. Padahal industri petrokimia memiliki peran penting dalam perekonomian tanah air.

Selain itu, industri petrokimia perlu perhatian khusus. Salah satunya dengan meningkatkan ketersediaan bahan baku dan pasokan energi dengan harga yang terjangkau. Kemudian kesinambungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah untuk mempermudah industri.

Direktur Industri Kimia Dasar, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam mengatakan sudah meminta kepada Kementerian ESDM untuk mengamankan alokasi gas sebagai bahan baku petrokimia.

"Kami dari Kementerian Perindustrian sudah meminta kepada Kementerian ESDM untuk mengamankan alokasi gas industri petrokimia," ujar Khayam di Kantor Pusat Kadin, Jakarta (25/1/2018).

Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga telah meminta keringanan pajak ke Kementerian Keuangan agar industri bisa bertahan.

"Dengan upaya tersebut harapannya, industri petrokimia dalam negeri bisa bersaing dengan produk luar. Kami ingin bersaing dengan impor bahan baku yang dari Tiongkok ke Indonesia," kata dia.

Lebih lanjut, Khayam mengungkapkan, saat ini ada proyek baru petrokimia yang menjadi perhatian pemerintah. Pertama, proyek milik PT. Pupuk Indonesia, Ferrostaal, Sojitz, dan LG di Teluk Bintuni, Papua Barat. Kedua, proyek industri naphtha cracker oleh PT. Chandra Asri Petrochemicals di Cilegon, Banten yang nilai investasinya US$ 5,44 miliar.

Ketiga, proyek industri naphtha cracker PT. Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten. Investasi proyek ini ditaksir sebesar U$ 3,5 miliar dan akan selesai 2023.

Keempat, Proyek relokasi industri naphtha cracker CPC Taiwan oleh PT. Pertamina di Tuban, Jawa Timur. Kelima, Proyek industri Vynil Chloride Monomer oleh PT. Asahimas Chemical di Cilegon, Banten.

Selain itu ada juga proyek pabrik gasifikasi batubara oleh PT. Bukit Asam, PT Pertamina, PT Pupuk Indonesia, dan PT Chandra Asri Petrochemicals di Muara Enim, Sumatera Selatan.

Sementara, untuk industri petrokimia yang memanfaatkan gas di blok Masela masih menunggu besaran alokasi. "Kami masih menunggu Kementerian ESDM," kata ujar Khayam.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →