Bedah Buku, Ngasiman Djoyonegoro Ungkap Peperangan Model Baru di Era Digital

Oleh : Hariyanto | Rabu, 10 Januari 2018 - 18:52 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY co.id -Jakarta - Ngasiman Djoyonegoro hari ini melaunching dan membedah buku berjudul “Intelijen di Era Digital: Prospek dan Tantangan Membangun Ketahanan Nasional” di Menara Batavia, Tanah Abang Jakarta Pusat, Rabu (10/1/2018).

Sejumlah tokoh penting yang juga sebagai panelis tampak hadir diantaranya adalah perwakilan Kepala Badan Keamanan Laut RI Abdul Ghofur, perwakilan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI Brigjen TNI Karmin Suharna, Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri Komjen Pol Lutfi Lubihanto, Pengamat Intelijen Dr. Wawan H Purwanto, Rektor Perbanas Institute Prof Dr Ir Marsudi Wahyu Kisworo dan Deputi IV Kantor Staf Presiden RI Drs Eko Sulistyo.

Dalam sambutannya, Ngasiman membeberkan tujuan penulisannya dalam rangka menghadapi era globalisasi yang diiringi dengan perkembangan teknologi digital, dan muncul ancaman dalam bentuk dunia baru yakni cyber war, proxy war, asymmetric wars, cyber terrorism, cyber espionage dan lain-lain.

“Kehadiran buku ini diharapkan dapat memberikan gambaran jelas kepada insan intelijen Indonesia tentang bagaimana prospek dan tantangan membangun ketahanan nasional di era digital,” ungkap Ngasiman.

Ngasiman juga menjelaskan peperangan yang dulunya identik dengan senjata, peluru, pembunuhan, pengeboman kini telah bergeser seiring dengan perkembangan teknologi. Menurutnya,  peperangan telah memiliki model baru yang jauh berbeda dengan peperangan konvensional.

“Kelompok teroris, perbankan hingga profiling terhadap orang dan perusahaan melakukan aksinya dengan dukungan digital,” ujarnya.

Tak hanya itu, kata dia, penyebaran informasi hoax bernada sara yang dapat memperpecah bangsa sekarang juga berlangsung melalui perangkat digital. Tercatat, ada 205 592.159 serangan siber yang menyerbu pertahanan digital Indonesia.

“Serangan ini mulai dari serangan hoax, peretasan terhadap KPU, peretasan website pemerintah dan BUMN, hingga serangan ransomware yang secara langsung meminta tebusan kepada masyarakat,” jelasnya.

Ngasiman mengaku bahwa media sosial juga bisa mempengaruhi publik untuk melakukan kejahatan. Seperti rekrutmen pengantin baru (teroris) berawal dari provokasi medsos, termasuk juga pembakaran rumah ibadah di Lampung.

“Tahun 2017 sudah terlewati merupakan tahun serangan siber luar biasa dan Pilkada DKI isu hoax, saracen marak dengan tujuan memecah bela kehidupan masyarakat,” katanya.

Lebih jauh, Ngasiman berpesan dalam menghadapi Pilkada serentak 2018 perlu mengantisipasi produksi hoax dan intelijen diharapkan bisa mendeteksi dan kedepan intelijen bisa tangguh untuk menjaga NKRI.

“Jangan sampai informasi penting yang dimiliki intelijen Indonesia bisa aman dan tidak terhack oleh asing,” pungkasnya.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →