Kebutuhan Kredit Bagi UMKM di Indonesia Capai Rp1.700 Triliun

Oleh : Ridwan | Kamis, 28 Desember 2017 - 13:05 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), UMKM Indonesia kekurangan pinjaman modal usaha untuk mengembangkan bisnis.

Saat ini terdapat kebutuhan kredit bagi UMKM sebesar Rp1.700 triliun per tahun di Indonesia. Lembaga keuangan yang ada hanya dapat memenuhi Rp700 triliun dari kebutuhan tersebut, sehingga ada kekurangan pendanaan bagi UMKM sebesar Rp1.000 trilliun di Indonesia setiap tahun.

"Situasi ini tak hanya merugikan industri usaha kecil, tetapi juga melemahkan ekonomi negara," ujar Hendrikus Passagi selaku Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK di Jakarta (28/12/2017).

Sementara itu, Studi Oliver Wyman menemukan bahwa kurangnya akses terhadap pinjaman bagi UMKM Indonesia yang ingin berkembang menyebabkan kerugian sebesar 14 persen dari total PDB nasional di tahun 2015.

Menurut Hendrikus, P2P lending dapat menjawab kebutuhan UMKM lokal dengan memperluas akses pinjaman modal usaha di Indonesia. "Selain itu, platform P2P lending dapat menghubungkan UMKM berpotensi dan pencari alternatif investasi melalui pasar digital," terangnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, karena analisis kredit P2P lending fokus pada kesehatan usaha, bukan jaminan, maka pinjaman P2P lending cocok bagi UMKM yang biasanya belum memiliki cukup aset. "Tenor pinjaman yang pendek dan proses yang lebih cepat, dari aplikasi hingga pencairan pinjaman, juga cocok dengan kebutuhan UMKM," kata Hendrikus.

Melalui P2P lending, UMKM yang ingin berkembang dapat mulai mendapatkan pinjaman modal usaha dan membangun riwayat kredit. Semakin UMKM berkembang, mereka dapat mengakses lebih banyak produk keuangan, contohnya mendaftar untuk pinjaman bank.

Ia kembali menegaskan, kemajuan UMKM serta keberadaan industri P2P lending dan perbankan yang komplementer akan mendukung ekosistem keuangan yang sehat dan inklusif.

"Di sisi lain, P2P lending juga menciptakan instrumen alternatif investasi yang mudah diakses, sehingga layanan keuangan bagi masyarakat luas bertambah dan inklusi keuangan di Indonesia meningkat," tuturnya.

Dikesempatan yang berbeda, Stefanus Warsito selaku Chief Risk Officer Modalku mengungkapkan, kebutuhan pinjaman segmen UMKM di Indonesia sangat tinggi.

Menurutnya, saat ini industri perbankan sudah menyalurkan pinjaman kepada mereka dan kehadiran P2P lending akan menyediakan solusi pinjaman alternatif yang dapat membantu perkembangan bisnis UMKM.

"Dengan begitu, P2P lending menjadi komplemen bank dalam mendukung inklusi keuangan dan ekonomi Indonesia," tutupnya.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →