Meningkatnya Belanja Online Tak Mampu Hasilkan Ofset Penurunan Belanja Offline

Oleh : Ridwan | Rabu, 27 Desember 2017 - 16:26 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi digital karena dari jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa, sekitar 93,4 juta orang di antaranya adalah pengguna internet.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tujuan mengakses internet di perkotaan dan perdesaan sebesar 11,33 persen untuk melakukan pembelian, penjualan barang atau jasa, purchasing, selling goods, serta services.

Sedangkan, pada tahun 2015 perkembangan penduduk usia 5 tahun keatas yang pernah mengakses internet mencapai 22 persen. Sementara itu, rumah tangga yang mengakses internet menggunakan telepon seluler mencapai hampir 85 persen pada tahun 2015.

"Penggunaan internet yang semakin massif membuat perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia," ujar Kepala BPS, Suhariyanto di Jakarta (27/12/2017).

Ia menambahkan, tren digital merubah gaya hidup dari non leisure ke leisure. Share konsumsi leisure terhadap total konsumsi rumah tangga berkisar 14 persen.

"Pertumbuhan konsumsi leisure saat ini menunjukkan tren yang meningkat. Pertumbuhan leisure dan non leisure terlihat berbanding terbalik," terangnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, tren pertumbuhan leisure, baik kelompok rekreasi dan kebudayaan maupun restoran dan hotel menunjukkan peningkatan.

"Tren pertumbuhan rekreasi dan kebudayaan lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan restoran dan hotel. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi kelompok non leisure terlihat mengalami penurunan pada Q3-2017," kata Suhariyanto.

Namun, lanjutnya, meningkatnya belanja online tidak mampu menghasilkan ofset penurunan belanja offline. Share belanja online kecil. Berdasarkan data Nielsen pada tahun 2015, transaksi online mencapai US$ 5,9 billion.

Penetrasi produk online sepeti jam tangan dan tas mencapai (20,54%), alat komunikasi dan aksesorisnya (12,38%), pakaian, alas kaki dan tutup kepala (7,32%), barang-barang rekreasi (5,74%).

"Semakin tinggi golongan pendapatan semakin besar presentase rumah tangga yang pernah belanja online dan semakin besar konsumsi dari belanja online," katanya.

Sementara itu, Merujuk data dari lembaga kajian ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, nilai perdagangan elektronik di dalam negeri pada 2016 mencapai USD24,6 miliar atau setara Rp319,8 triliun (dengan asumsi kurs sebesar Rp13.000 per dolar AS).

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Google dan Temasek juga menunjukkan tren serupa, bahwa pasar online di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh rata-rata sebesar 32 persen per tahun selama 10 tahun ke depan dan akan mencapai angka transaksi sebesar USD88 miliar pada tahun 2025.

Indonesia diprediksi memegang peranan signifikan dengan penguasaan sekitar 52 persen pasar e-commerce di Asia Tenggara, di mana nilai transaksi akan mencapai USD46 miliar pada tahun 2025.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →