CentrePark, Ancang-Ancang Jadi Pengelola Jasa Parkir Nomor Satu

Oleh : Ridwan, Dhiyan H Wibowo | Senin, 18 Desember 2017 - 08:40 WIB · 8 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Sejumlah perusahaan jasa layanan perparkiran asing sejak lama 'menguasai' pangsa pasar bisnis ini, mengingat potensi pendapatan yang cukup menggiurkan.

CentrePark pun hadir mewarnai kompetisi di bisnis jasa layanan perparkiran sebagai perusahaan lokal yang siap bersaing secara sehat dengan para 'incumbent'.

Basuki Tjahja Purnama atau Ahok saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta punya perhatian khusus pada pengelolaan perparkiran di wilayahnya. Ia pernah mengemukakan bahwa potensi pendapatan dari bisnis perparkiran d Jakarta, bisa mencapai Rp1,8 triliun per tahun.

Sebuah angka yang cukup signifikan yang bisa disumbangkan bagi pendapatan asli daerah (PAD). Maka DKI pun mulai mencoba mengitensifkan pendapatan dari layanan parkir, termasuk dibangunnya mesin parkir automatis di sejumlah ruas jalan.

Terus bertumbuhnya angka penjualan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, serta makin terbatasnya lahan untuk parkir di kota-kota besar, menjadikan usaha jasa layanan perparkiran menjadi bisnis yang bisa menawarkan margin menarik.

Maka tak heran para pengelola perpakiran asing pun masuk ke Indonesia demi meraup untung dari bisnis lapak perparkisan, khususnya di lahan perparkiran gedung perkantoran dan mixed use.

Sebut saja ISS Group yang didirikan pada tahun 1901 di Copenhagen, Denmark, namanya kini sangat familiar dalam hal pengelolaan perparkiran di Jakarta.

Atau boleh juga disebut Secure Parking didirikan sejak tahun 1979 di Sydney Australia oleh dua bersaudara Garth Mathews & Brett Mathews yang di Indonesia hadir lewat PT Securindo Packatama Indonesia, telah berkembang menjadi perusahaan penyedia jasa pelayanan pengelolaan perparkiran terbesar di Australia dan Indonesia.

Di Indonesia, Secure Parking telah masuk dalam bisnis layanan parkir sejak tahun 1992 dan telah memiliki lokasi parkir dalam operasional sebanyak 600 lokasi yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.

Ada lagi peusahaan pengelola parkir yang didirikan salah satunya oleh Suryanto Herman pada Agustus 2002, yakni Sunparking.

Nama yang satu ini mulai meramaikan bisnis pengelolaan lahan perparkiran di Indonesia lewat badan usaha PT Surya Utama Nusaparka (SUN). Sunparking belakangan disebut-sebut telah diakuisisi oleh ISS, pemain besar asal Denmark.

Belakangan muncul nama CentrePark yang juga ikut memperebutkan ceruk pasar bisnis perparkiran yang telah lama dikuasai oleh tiga nama besar tadi.

Lewat bendera PT CentrePark Citra Corpora, CentrePark telah menjelma menjadi perusahaan berskala nasional di bidang jasa parkir dan industri manajemen, setelah berdiri dan mulai beroperasi pada tahun 2009.

Didukung oleh visi dan misi yang tepat, kami siap untuk berpartisipasi dalam industri ini, dan bersaing untuk menjadi perusahaan manajemen parkir yang paling terkenal di Indonesia. Keyakinan kami untuk menjadi pengelola parkir terbesar berasal dari tim manajemen dan mitra kami yang berpengalaman, kata Presiden Direktur PT CentrePark Citra Corpora, Charles R Oentomo kepada redaksi INDUSTRY.co.id beberapa waktu lalu.

Dikatakan Charles, dalam pengembangan teknologi pihaknya telah berhasil mengembangkan sistem manajemen parkir yang lebih maju, yang bisa diterapkan untuk sistem perangkat keras maupun perangkat lunak, yang memberikan solusi segera untuk masalah parkir.

Kami berharap fleksibilitas dalam mengelola bisnis akan membawa keadilan dan keuntungan terbaik bagi klien, mitra bisnis, dan pengguna layanan kami, imbuhnya.

Pria jebolan jurusan Teknologi Informasi Universitas Bina Nusantara ini memutuskan untuk mendirikan usaha jasa layanan perparkiran setelah ia merasa memiliki cukup pengetahuan terkait bisnis tersebut.

Bisa dimaklumi, sebelum ia mendirikan PT CentrePark Citra Corpora pada tahun 2009, ia sempat menjadi bagian dari industri selama lima tahun di Sun Parking.

Tercatat ia dipercaya sebagai Deputy Director Business Development Sun Parking sebagai jabatan terakhirnya di perusahaan yang kini dimiliki ISS asal Denmark tersebut.

Dengan tugas membangun tim pengembangan bisnis terbaik di 230 lokasi, telah mempermudah dirinya membangun jaringan layanan perparkiran baru, lewat bendera usaha yang dimilikinya.

Setidaknya saat ini CentrePark telah mempekerjakan sedikitnya 4.500 orang di 190 lahan parkir yang dikelola, yang tersebar di antaranya di Jabodetabek, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Madiun, Surabaya, Bali, Lombok, Ambon, Manado, Makassar, Banjarmasin, Balikpapan, Pontianak, dan Singkawang.

Menariknya, kendati komposisi terbesar skala bisnisnya berada Jakarta, CenterPark jutsru merintis usaha pertamanya di luar Jawa, yang masih terus dikelola hingga saat ini.

Layanan pengelolaan perparkiran dibuka pertama di Bengkulu Indah Mall, yang diikuti oleh proyek kedua di Bali, disusul Banding dan berikutnya mulai menyebar ke sejumlah kota besar, termasuk memperbesar skala bisnis di Jakarta.

Sementara itu Janti Rusli, Business Development Director PT CentrePark Citra Corpora saat ditemui redaksi INDUSTRY.co.id dikantornya mengemukakan, jika dilihat dari skala perusahaan yang murni dimiliki dan dioperasikan pemain domestik, maka CenterPark bisa dikatakan sebagai pemain nomor satu.

Tetapi kalau dilihat in term size of project atau jumlah proyek, maka kita berada di urutan kedua skala nasional, kata Janti.

Dari sekitar 65-70 perusahaan yang menjalani bisnis serupa, sejatinya ceruk pasar industri perparkiran nasional praktis dikuasai oleh lima pemain besar, termasuk CentrePark.

Dan nilai yang diperebutkan juga cukup massif. Disebutkan Janti, dalam satu gedung shooping center skala bintang lima saja, omset dari perparkiran satu gedung perbulannya bisa mencapai Rp4 miliar-Rp5 miliar per bulan.

Omzet ini sangat tergantung dari kapasitas lahan parkir yang tersedia plus traffic pengunjung yang datang ke gedung tersebut. Terus terang yang paling potensial ya shopping center, kata Janti.

Jadi bisa dibayangkan kumpulan uang receh ribuan yang dibayarkan para pemilik kendaraan yang membutuhkan space untuk parkir, bisa mencapai angka triliunan rupiah dalam satu kawasan kota besar seperti Jakarta.

Seperti yang disebutkan oleh mantan Guebernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama, angka yang bisa diperoleh dari jasa perparkiran mencapai Rp1,8 triliun.

Bahkan menurut Janti, kumpulan uang receh tadi sejatinya bisa membiayai pengelolaan gedung sepenuhnya.

Perusahaan pun punya kiat untuk mencapai misi menjadi penyedia layanan jasa parkir terbesar. Menurut Janti salah satunya adalah kreatifitas dan inovasi.

Di lingkup bisnis yang dinamis ini, menurutnya perusahaan tak boleh puas hanya dengan menjadi yang nomor satu atau dua, namun juga harus mampu menciptakan ide-ide baru yang kreatif lewat sejumlah inovasi yang pada ujungnya akan membuat perusahaan berjalan secara efisien, sekaligus memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang dilayani.

Kita akan meluncurkan teknologi terbaru kita, sehingga sistem perparkiran kita kurang lebih akan sama seperti yang diterapkan di luar negeri, ujarnya.

Selain itu perusahaan juga akan menggandeng beberapa industri maupun perusahaan yang bisa membawa perusahaan menjadi pemain nomor satu.

Salah satu hal yang juga dibutuhkan perusahaan untuk memperkuat struktur bisnis adalah basis teknologi yang akan terus ditingkatkan. Peningkatan penggunaan teknologi tentunya juga tak akan meninggalkan faktor sumber daya manusia yang cakap.

Dikatakan Janti, perusahaan terus memberikan pembinaan dan pelatihan untuk menigkatkan kualitas sumber daya manusia.

SDM merupakan salah satu elemen yang memegang peranan besar dalam memberikan jasa kepada klien, untuk itu pelatihan sangat kami tekankan mulai dari perekrutan sampai pelatihan dan pembinaan. Itu adalah program yang terus menerus kita lakukan, kata Janti.

Berikutnya sebuah sistem yang mumpuni dan transparan, yang melengkapi cara kerja perusahaan, dipastikan akan memperkuat proses kerja sama dengan mitra kerja, yang ujungnya tentunya akan memberikan kepercayaan.

Pihaknya, kata Jani selalu menerapkan sistem yang transparan untuk keuangan. Tiap bulan memberikan laporan baik dari segi biaya sampai keuntungan yang diperoleh dan semua dengan sistem online.

"Dengan sistem ini baik kami maupun klien dapat memantau jumlah kendaraan, jumlah uang yang masuk, jumlah personil kami berapa, itu semua kami laporkan secara transparan dengan sistem, paparnya.

Lalu, sempat juga dijelaskan Charles sang pendiri, dalam mengelola bisnis perparkiran, CentrePark mengacu pada The 3 Pillars yang dipercaya menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan bisnisnya.

Pilar pertama disebutkan Charles adalah Sumber Daya Manusia (SDM) atau people. Dengan motto perusahaan Your Trusted Partner, SDM dipandang sebagai pilar utama bagi CentrePark.

SDM yang tangguh menjadi di setiap lini pekerjaan menurutnya adalah hal yang mutlak dan itu bisa diciptakan melalui proses rekrutmen yang selektif dan pelatihan yang intensif.

SDM, lanjut Charles adalah kekuatan utama untuk perusahaan yang menyediakan jasa parkir. Pilar kedua adalah teknologi.

Dengan diciptakannya aplikasi teknologi yang mendukung sistem perparkiran secara mandiri demi menjawab fleksibilitas dan keadaan lapangan pada saat pengelolaan, maka pengembangan usaha dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien.

Pilar berikutnya adalah infrastruktur, yang diwujudkan dengan dibentuknya divisi infrastruktur yang komprehensif, yang berikutnya akan menyediakan masukan yang juga komprehensif terkait desain dan pengembangan termasuk kajian untuk mencapai upaya peningkatan bisnis.

Mengenai rencana pengembangan bisnis ke depan, Janti mengemkakan pihaknya tengah menyiapkan sebuah platform dan mengupayakan penambahan modal baru.

Dengan adanya injeksi modal baru, diharapkan perusahaan bisa melakukan pertumbuhan anorganik dengan cara mengakuisisi perusahaan lain.

Bagi Janti, untuk memperbesar skala usaha, hal itu bisa dilakukan secara generik termasuk juga upaya instan seperti akuisisi.

Kita sedang memperbesar modal, mungkin ada beberapa perusahaan yang kita akuisisi. Menurut saya kalau mau jadi perusahaan besar ada yang harus kita lakukan secara generik ada juga yang instan, ujarnya.

Menyoal sejumlah kendala yang dihadapi para pelaku di bisnis jasa perparkiran, sejauh ini manajemen CentrePark menganggap belum ada persoalan berarti yang dihadapi.

Soal perpajakan pun, CentrePark merupakan perusahaan yang taat pajak. Sedikit yang masih menjadi ganjalan adalah perbedaan besaran Penerimaan Pajak Daerah (PPD) yang diterapkan tiap daerah.

Sejumlah daerah, kata Janti, menetapkan PPD yang lebih besar ketimbang Jakarta. Sementara perusahaan masih menetapkan tarif parkir yang relatif rendah.

Di daerah pajak PPD-nya lebih tinggi dari Jakarta, tetapi tarif disana itu masih sangat rendah. Itu yang membuat kami kesulitan dalam hal pengoperasian. Karena prinsip kami biaya operasional bisa dibiayai oleh pendapatan operasional juga, ujarnya.

Masih menurut Janti, Jakarta merupakan daerah dengan tingkat PPD terendah di angka 20%. Sementara sejuumlah daerah ada yang menetapkan angka hingga 30%, sedangkan perusahaan hanya menerapkan tarif parkir Rp2000-Rp3000.

Terlepas dari persoalan tersebut, PT Centrepark Citra Corpora tetap mencanangkan goal menjadi perusahaan layanan jasa perparkiran nomor satu.

Untuk menuju kesana kita tak henti untuk terus berinovasi dari sisi teknogi maupun SDM, tandasnya.

Ridwan, Dhiyan H Wibowo Lihat semua artikel →