Kenaikan Pesat Laba di Triwulan III-2017 Dorong Kenaikan ROA Perbankan Tahun ini

Oleh : Abraham Sihombing | Kamis, 14 Desember 2017 - 13:00 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta – Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), berpendapat, rasio profitabilitas (kemampuan mencetak laba-red) atau Return on Assets (ROA) sektor perbankan nasional tahun ini menunjukkan peningkatan seiring dengan kenaikan pesat laba bersih sektor perbankan pada triwulan ketiga 2017.

“Tingkat ROA rata-rata tujuh bank papan atas di Indonesia tercatat sebesar 2,58% per September 2017, atau lebih tinggi 7 basis poin dibandingkan per September 2016 sebesar 2,51%,” ujar Halim usai acara Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta, Selasa (12/12/2017).

Ketujuh bank papan atas yang dimaksud adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Panin Tbk (PNBN), PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Halim mengemukakan, kenaikan pesat laba bersih perbankan tersebut didorong oleh membaiknya kualitas kredit yang disalurkan bank-bank tersebut per September 2017.

Indikator yang biasanya digunakan untuk mengukur profitabilitas perbankan adalah ROA selama tiga tahun terakhir. ROA dapat dijadikan ukuran kemampuan sebuah bank untuk memanfaatkan aset-asetnya dalam mencetak laba.

Karena itu, semakin tinggi nilai ROA suatu bank, maka kemampuan mencetak laba bank tersebut akan semakin baik, atau dapat dikatakan produktivitas dari pemanfaat aset-asetnya dinilai cukup tinggi.

Misalnya ROA Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV yang dapat diamati dalam tiga tahun terakhir ini. Pada Desember 2015, ROA BUKU IV tersebut tercatat 4%, tetapi angka itu tergerus hingga 3% pada Desember 2016. Kondisi tersebut terus berlanjut hingga September 2017.

Kendati demikian, Halim pesimistis ROA perbankan tersebut dapat kembali meningkat pada tahun depan seiring berlanjutnya tren penurunan tingkat suku bunga perbankan, baik di pasar global maupun domestik.

“Tren penurunan suku bunga pinjaman akan menggerus marjin bunga perbankan. Itu bakal menekan pendapatan bank. Belum lagi, perbankan sendiri tidak mudah untuk mendorong kenaikan tingkat suku bunga kredit,” papar Halim.

Menurut data Bank Indonesia, tingkat suku bunga rata-rata kredit perbankan telah terpangkas 128 basis poin sepanjang Januari 2016 hingga November 2017.

Halim juga mengatakan, perbankan pada tahun depan juga berpotensi mengalami kenaikan kredit macet (non-performing loan/NPL). Itu karena pemulihan ekonomi domesti belum merata, terutama di sektor pertambangan.

“Kendati NPL hingga November 2017 masih dibilang cukup rendah yaitu sebesar 2,9%, akan tetapi bank-bank tersebut pada tahun depan akan menyalurkan kredit lebih ketat lagi karena harus melakukan berbagai macam pertimbangan,” paparnya.

Disamping itu, demikian Halim, adanya regulasi untuk meningkatkan cadangan modal perbankan turut membebani ROA bank-bank tersebut. Pasalnya, peningkatan cadangan modal tersebut bertujuan untuk mengatasi berbagai tekanan dari pasar keuangan global yang diperkirakan bakal mengancam kinerja likuiditas sektor perbankan. (Abraha Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →