Ini Aksi Nyata ACT Terhadap Korban Terpapar Bencana
INDUSTRY.co.id - Jakarta-Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberikan berbagai bantuan kepada para korban yang terpapar bencana alam baik di Bali, Pacitan dan Yogyakarta. Setidaknya ACT membagikan 5.000 masker N95 bagi korban yang terpapar bencana, membangun tenda pengungsian sementara, serta mendirikan dapur sosial.
“Masyarakat diimbau tetap tenang. Walaupun badai Cempaka kemarin sudah mulai melemah, tapi kita sekarang sedang mendekati puncak musim hujan. Relatif intensitas hujannya akan sama. Untuk masyarakat di wilayah yang menjadi langganan banjir dan longsor harus tetap waspada,” ujar Ibnu di Media Center “Bersatu Hadapi Bencana” ACT Jakarta, Kamis (30/11/2017).
Menurut dia, bencana di Bali, dalam laporannya, abu vulkanik membumbung hingga ketinggian 2.500 – 3.000 imbas erupsi freatik Gunung Agung di Karangasem, Bali. Sampai Kamis (30/11), jumlah pengungsi erupsi Gunung Agung mencapai 43.458 jiwa tersebar di 229 titik.
Oleh karena itu, tambah dia, dapur Umum ACT untuk pengungsi Gunung Agung di pusatkan di Posko Pertanian, Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali. Sampai dengan Rabu (29/11), jumlah pengungsi di posko pengungsian ACT di Desa Rendang mencapai 1.500 jiwa.
Sementara itu, tim ACT sudah bersiaga di Gunung Agung, Karangasem, Bali, sejak pertengahan September. Sejak saat itu, serangkaian aksi telah dilakukan, di antaranya mendirikan dapur umum untuk menampung ratusan pengungsi.
"Saat status Gunung Agung meningkat menjadi siaga, tim pun segera melebarkan aksinya dengan membagikan ribuan masker kepada masyarakat sekitar Gunung Agung," katanya.
Sementara, lanjut dia, bencana longsor di Pacitan, akses masuk ke daerah Pacitan yang sempat terputus telah berhasil dibuka. Tim Emergency Response – ACT ikut berjibaku membuka jalur yang tertimbun longsor di Desa Wates, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo.
Dapur umum akan segera didirikan di titik banjir Pacitan. Menyusul tenda pengungsian. Dikabarkan 11 orang meninggal di Pacitan karena tertimbun longsoran dan terseret arus.
Di Yogyakarta pun dilaporkan total 5 orang tewas akibat banjir, longsor, dan puting beliung di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Siklon Cempaka memicu total 114 bencana di Yogyakarta. Paling banyak terjadi angin kencang sejumlah 68 kali kejadian di Kabupaten Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Sleman.
"Aksi Cepat Tanggap (ACT) berupaya memberikan respon tercepat dan terbaik untuk meringankan derita saudara yang tertimpa bencana.
Sepekan terakhir, kabar dari Tanah Air dipenuhi dengan bencana alam di berbagai daerah seperti banjir di Lombok, Bali, Sidoarjo, Pacitan, Wonogiri, Yogyakarta. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan akan terjadi pada Desember 2017 hingga awal 2018," katanya.