Terlalu Sederhana, Jika Holding Pertambangan Dibentuk untuk Tingkatkan Modal Semata

Oleh : Abraham Sihombing | Selasa, 28 November 2017 - 10:51 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Terlalu sederhana, jika ada pihak yang memandang bahwa tujuan pembentukan holding pertambangan hanya sekadar memperbesar modal serta meningkatkan kemampuan untuk mendapatkan utang.

Demikian pendapat yang diutarakan oleh Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Direktur Utama PT Timah, dalam sebuah diskusi bertajuk “Menakar Untung Rugi Holding BUMN” yangn dilaksanakan di Jakarta, Senin (27/11/2017).

“Secara konsep, rencana pembentukan holding BUMN pertambangan tersebut lebih banyak memiliki manfaat positif, terutama untuk proses hilirisasi perusahaan pertambangan,” ujar Erry.

Karena itu, demikian Erry, pembentukan holding BUMN pertambangan tersebut dinilai sebagai langkah positif pemerintah untuk memperbesar kapasitas dan kapabilitas perusahaan pertambangan nasional.

“Jika ketiga BUMN pertambangan tersebut disatukan dalam holding, maka leverage ketiga perusahaan tersebut menjadi cukup kuat untuk menarik investasi serta melakukan ekspansi usaha kedepan,”tukas Erry.

Erry menjelaskan, ketika secara performance sudah terlihat kuat, maka potensi untuk membeli saham PT Freeport Indonesia kemungkinan dapat terlaksana. Tetapi itu harus dilakukan dengan transparan, taat hukum serta tidak boleh lepas dari pengawasan pemerintah.

Untuk urusan transparansi, demikian Erry, ketiga BUMN pertambangan tersebut tidak usah khawatir. Pasalnya, status sebagai perusahaan terbuka di ketiga BUMN pertambangan tersebut mewajibkan untuk ketiganya untuk mematuhi aturan pasar modal, salah satunya transparansi.

“Jadi, disamping Undang-Undang BUMN (UU BUMN), ketiga BUMN pertambangan tersebut juga harus mematuhi peraturan pasar modal,” imbuh Erry.

Erry menyetujui rencana pemerintah untuk membentuk holding BUMN tersebut. Langkah itu dinilai penting karena holding tersebut kemungkinan dapat mengatur mekanisme naik-turunnya harga-harga komoditas yang dikelola ketiga BUMN pertambangan tersebut yang harganya terlalu rentan berfluktuasi secara saling silang. (Abraham Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →