AISI Minta Peraturan Pemerintah Jangan Sampai Beratkan Industri

Oleh : Ridwan | Senin, 27 November 2017 - 15:15 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY co.id -Jakarta, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala mengatakan, sejauh ini pertumbuhan industri sepeda motor nasional masih cukup bagus. Namun, masalahnya kita perlu disupport dari peraturan pemerintah jangan sampai memberatkan industri.

"Semua permasalahan sudah kita sampaikan kepada pemerintah, harapannya nanti ditindaklanjuti. Optimis industri akan bergerak positif," ujar Sigit saat ditemui INDUSTRY.co.id seusai acara FGD Kadin di Jakarta, Senin (27/11/2017).

Menurut Sigit, tanggapan pemerintah cukup positif karena industri sepeda motor merupakan penggerak ekonomi nasional khususnya ada di daerah.

Seperti diketahui, penjualan sepeda motor nasional meningkat di bulan Oktober 2017. Dari data Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) tercatat penjualan domestik Oktober sebesar 579.552 unit. Jumlah tersebut naik dari 6% periode bulan sebelumnya sebesar 546.607 unit.

Namun secara total penjualan dalam 10 bulan terakhir sebesar 4.919.804 unit. Nilai tersebut turun 0,05% dari periode sama tahun lalu sebesar 4,92 juta unit.

"Sekarang ini boleh dibilang baru terpakai 60% dari kapasitas yang ada. Sedangkan ekspor kita cukup bagus, kalau tahun lalu angkanya sekitar 318 ribu sekarang ini sekitar 400 ribu atau naik  jadi 20%," terangnya.

Lebih lanjut, Sigit mengatakan, tahun depan lokal market, kami prediksi naik sekitar 6,1 - 6,2 persen. Hal itu dikarenakan komoditi membaik, beberapa sektor riil mengalami perbaikan.

"Target pemerintah ekspor di atas 10 persen, kami kan baru 3 tahun ini ekspor nya membaik,  tahun depan baru pertama kali naik sejak 2014," kata Sigit.

Sigit berharap komponen steel dan bijih plastik bisa diproduksi di dalam negeri. Dengan begitu, akan ada harga yang lebih kompetitif.

"Komponen steel dan bijih plastik saat ini masih impor, sehingga kalau ada perubahan kurs rupiah itu akan berpengaruh di produk kami. Kalau ada steel dan bijih plasitk diproduksi sendiri itu bisa menurunkan cost sekitar 3-5 persen, " imbuh Sigit.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →