RI-Kazakhstan Teken MoU Perkuat Kerja Sama Industri

Oleh : Ridwan | Sabtu, 11 Juli 2026 - 18:00 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Indonesia memanfaatkan ajang INNOPROM 2026 di Rusia, untuk memperkuat kerja sama industri dengan kawasan Eurasia. Salah satu hasil konkret dari partisipasi sebagai Official Partner Country adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama industri antara Indonesia dan Kazakhstan.

Kesepakatan tersebut ditandatangani dalam pertemuan bilateral Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dengan Menteri Industri dan Konstruksi Republik Kazakhstan Ersaiyn Nağaspaev.    MoU ini diharapkan menjadi pijakan untuk memperluas investasi, memperkuat rantai pasok, hingga mendorong transfer teknologi di berbagai sektor manufaktur.   "Indonesia memandang Kazakhstan sebagai mitra strategis di kawasan Asia Tengah dan Eurasia, sekaligus sebagai pintu masuk yang potensial bagi produk industri Indonesia ke pasar Eurasia yang lebih luas. Kami berharap momentum ini dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama industri yang lebih konkret, implementatif, dan saling menguntungkan," kata Agus dalam keterangan resminya.   Agus menegaskan, keikutsertaan Indonesia sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026 bukan sekadar menghadiri pameran industri internasional. Menurutnya, momentum tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat diplomasi industri nasional, memperluas akses pasar ekspor, sekaligus menarik investasi baru.   Data menunjukkan hubungan dagang kedua negara terus meningkat. Pada 2025, nilai perdagangan nonmigas Indonesia-Kazakhstan mencapai US$ 172,2 juta. Sementara pada periode Januari-April 2026, nilainya melonjak 62,51% menjadi US$ 138 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.   Ekspor Indonesia ke Kazakhstan juga mencatat pertumbuhan positif. Sepanjang 2025, ekspor Indonesia mencapai US$ 114,4 juta, naik 26,69% dibandingkan tahun sebelumnya.   Produk unggulan Indonesia yang diekspor ke Kazakhstan meliputi produk elektronika, mesin, tembakau, minyak sawit beserta turunannya, hingga alas kaki. Sebaliknya, Indonesia mengimpor besi dan baja, seng, bahan kimia, serta kapas dari Kazakhstan.   Menurut Agus, struktur perdagangan kedua negara yang saling melengkapi menjadi modal penting untuk memperluas kerja sama industri dan investasi.   Dalam pertemuan tersebut, kedua negara juga membahas tindak lanjut hasil Sidang Komisi Bersama (SKB) Indonesia-Kazakhstan yang digelar di Astana pada Mei 2026, termasuk percepatan implementasi Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang kini memasuki tahap ratifikasi.   Perjanjian dagang tersebut diyakini akan memperbesar peluang ekspor produk manufaktur Indonesia ke negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU), termasuk Kazakhstan.   Sejumlah sektor prioritas yang menjadi fokus kerja sama meliputi perdagangan, investasi, energi, mineral, ketahanan pangan, transformasi digital, hingga kecerdasan artifisial (AI). Indonesia juga mendorong peningkatan akses pasar untuk produk minyak sawit, peralatan listrik dan mekanik, alas kaki, produk karet, serta makanan olahan.   Melalui Paviliun Indonesia di INNOPROM 2026, Kementerian Perindustrian turut memamerkan berbagai produk unggulan manufaktur nasional dan potensi investasi dari sektor strategis kepada para pelaku industri Eurasia.   Adapun MoU yang ditandatangani Indonesia dan Kazakhstan mencakup kerja sama pengembangan industri mesin, otomotif, industri barang jadi, hingga sektor manufaktur lainnya. Kedua negara juga sepakat memperkuat kolaborasi melalui pengembangan kawasan industri, pembentukan usaha patungan (joint venture), lokalisasi produksi, pengolahan mineral hilir, serta pengembangan produk bernilai tambah.   Selain itu, kerja sama diperluas pada bidang transformasi industri dan pengembangan sumber daya manusia melalui program pelatihan bersama antara pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku industri.   Pemerintah berharap implementasi MoU tersebut dapat mempererat hubungan ekonomi Indonesia dan Kazakhstan sekaligus membuka peluang investasi, perdagangan, serta kolaborasi industri yang lebih luas di kawasan Eurasia.
Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →