Harga Minyak Dunia Turun 11 Juli 2026: WTI di US1, Optimisme Pembukaan Selat Hormuz Redakan Kekhawatiran Pasar

Oleh : Candra Mata | Sabtu, 11 Juli 2026 - 08:20 WIB · 6 menit baca Baca versi lengkap →
  • Harga minyak dunia turun signifikan seiring optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz setelah konflik Iran-AS mereda
  • WTI Crude turun ke US$71,51/barel, Brent melemah ke US$76,00/barel pada perdagangan Jumat (10/7)
  • Penurunan harga minyak dipicu oleh harapan kelancaran pengiriman pasokan dari Timur Tengah ke pasar global
  • Kapal Pertamina Pride berhasil melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan, jadi sinyal positif bagi ketahanan energi Indonesia
  • Analis memperingatkan harga minyak masih volatil karena situasi geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya stabil

INDUSTRY.co.id - Harga minyak dunia mengalami penurunan pada akhir pekan pertama Juli 2026 seiring dengan meningkatnya optimisme pasar terhadap prospek pembukaan kembali Selat Hormuz. Mengutip data pasar dan laporan dari Kompas.com serta Kontan, harga minyak mentah acuan Internasional dan AS melemah setelah ketegangan di Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pergerakan Harga Minyak Terkini

Berdasarkan data pasar yang dihimpun, harga minyak mentah dunia pada Jumat (10/7/2026) ditutup melemah. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2026 turun 0,79% ke level US$71,51 per barel, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman September 2026 melemah 0,39% ke US$76,00 per barel.

Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan yang sudah terlihat sejak pekan sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga minyak WTI telah turun sekitar 3,5% dari level tertingginya di atas US$74 per barel yang sempat tercatat saat konflik Iran-AS memanas pada akhir Juni lalu. Penurunan ini mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan minyak global.

Sementara itu, harga gas alam juga tercatat turun 2,12% ke level US$2,948 per MMBtu, sementara harga minyak mentah acuan lainnya ikut tertekan oleh sentimen positif dari proses negosiasi damai di Timur Tengah.

Faktor Optimisme Pembukaan Selat Hormuz

Faktor utama yang mendorong penurunan harga minyak adalah meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz — jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global — akan segera kembali beroperasi normal. Konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang memuncak pada Juni 2026 sempat mengancam keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk Persia, memicu lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran gangguan pasokan.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, proses negosiasi damai menunjukkan perkembangan positif. Beberapa laporan menyebutkan bahwa gencatan senjata de facto telah berlaku, dan kapal-kapal tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz dengan pengawalan keamanan yang memadai.

Investor.id melaporkan bahwa "harapan pembukaan Selat Hormuz meredakan kekhawatiran pasar" akan kelangkaan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Kontan.co.id juga menulis bahwa harga minyak melemah "terseret harapan kelancaran pengiriman pasokan di Selat Hormuz." Sementara itu, Kompas.com memberitakan bahwa "pasar optimistis Selat Hormuz segera kembali normal."

Berita positif lainnya datang dari Indonesia. Kapal Pertamina Pride milik Pertamina dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan, menjadi sinyal bahwa jalur pasokan energi nasional mulai pulih. Hal ini menjadi kabar baik bagi ketahanan energi Indonesia yang sempat diuji oleh konflik di Timur Tengah.

Dampak Penurunan Harga Minyak bagi Indonesia

Penurunan harga minyak dunia memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia dalam beberapa aspek. Pertama, penurunan harga minyak mengurangi beban subsidi energi dalam APBN, karena Indonesia masih menjadi importir minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan domestik. Setiap penurunan US$1 per barel harga minyak diperkirakan menghemat APBN sekitar Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun per tahun.

Kedua, harga minyak yang lebih rendah berpotensi menekan harga BBM di dalam negeri. Meskipun pemerintah belum mengumumkan penyesuaian harga BBM, tren penurunan harga minyak dunia memberikan ruang fiskal bagi pemerintah untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi atau bahkan menurunkannya.

Ketiga, bagi sektor industri, penurunan harga minyak berarti biaya produksi yang lebih rendah, terutama untuk industri yang padat energi seperti manufaktur, transportasi, dan logistik. Hal ini dapat membantu menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa penurunan harga minyak juga berdampak negatif bagi pendapatan negara dari sektor migas, serta bagi perusahaan-perusahaan energi yang terdaftar di bursa.

Prospek Harga Minyak Pekan Depan

Para analis memperkirakan harga minyak masih akan bergerak volatil dalam pekan-pekan mendatang. Meskipun optimisme pembukaan Selat Hormuz menjadi katalis positif, situasi geopolitik di Timur Tengah masih jauh dari stabil. Ketegangan antara Iran dan AS masih bisa memanas sewaktu-waktu jika negosiasi damai gagal mencapai kesepakatan yang komprehensif.

Selain faktor geopolitik, pasar juga akan mencermati data permintaan minyak global, terutama dari Tiongkok dan India yang merupakan konsumen minyak terbesar dunia. Data PMI manufaktur global yang masih ekspansif di 52,2 pada Juni 2026 mengindikasikan permintaan energi masih cukup kuat, namun perlambatan ekonomi di negara maju bisa menekan konsumsi minyak ke depannya.

Bank investasi memperkirakan harga minyak WTI akan bergerak di kisaran US$68-US$75 per barel dalam jangka pendek, sementara Brent di kisaran US$73-US$80 per barel, tergantung pada perkembangan negosiasi damai Iran-AS dan data ekonomi global yang akan dirilis pekan depan.

FAQ Seputar Harga Minyak Dunia dan Selat Hormuz

Mengapa harga minyak turun pada 10-11 Juli 2026? Harga minyak turun karena meningkatnya optimisme pasar bahwa Selat Hormuz akan segera kembali normal setelah konflik Iran-AS mereda. Kapal tanker mulai berani melintasi jalur tersebut, mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global. Berapa harga minyak WTI dan Brent saat ini? Berdasarkan data terbaru, WTI Crude berada di US$71,51 per barel (turun 0,79%) dan Brent di US$76,00 per barel (turun 0,39%). Apa dampak penurunan harga minyak bagi Indonesia? Indonesia diuntungkan karena mengurangi beban subsidi energi APBN, berpotensi menekan harga BBM, dan menurunkan biaya produksi industri. Namun pendapatan negara dari sektor migas juga ikut berkurang. Apakah harga BBM di Indonesia akan turun? Belum ada pengumuman resmi. Penurunan harga minyak dunia memberikan ruang fiskal bagi pemerintah, namun keputusan penyesuaian harga BBM tergantung pada banyak faktor termasuk kondisi APBN dan inflasi. Bagaimana prospek harga minyak ke depannya? Harga diprediksi masih volatil dengan kisaran WTI US$68-US$75 per barel dan Brent US$73-US$80 per barel, tergantung pada perkembangan negosiasi damai Iran-AS dan data ekonomi global.

Key Takeaways

  • Harga WTI turun ke US$71,51/barel dan Brent ke US$76,00/barel pada 10 Juli 2026
  • Optimisme pembukaan Selat Hormuz menjadi pendorong utama penurunan harga minyak
  • Kapal Pertamina Pride berhasil melintasi Selat Hormuz — sinyal positif ketahanan energi RI
  • Penurunan harga minyak berpotensi mengurangi beban subsidi energi dan menekan biaya produksi industri
  • Analis peringatkan volatilitas masih tinggi karena situasi geopolitik Timur Tengah belum stabil sepenuhnya
Candra Mata

Redaksi

Candra Mata adalah seorang jurnalis dan wartawan di media cetak dan portal berita online nasional bernama Industry.co.id, tercatat aktif sebagai salah satu tim redaksi dan jurnalis yang mengulas berbagai perkembangan sektor industri di Indonesia.Fokus Liputan: Artikel berita yang ditulisnya banyak berfokus pada kebijakan ekonomi, aktivitas ekspor-impor, program investasi nasional, perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga inovasi Industri Kecil Menengah (IKM)

Lihat semua artikel →