Harga Anjlok, Direksi AMMN Malah Serok Saham Rp17 Miliar, Ada Apa?

Oleh : Nata Kesuma | Rabu, 08 Juli 2026 - 18:28 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di tengah tekanan yang masih membayangi pasar modal domestik, jajaran direksi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) justru menunjukkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang perusahaan. 

Keyakinan tersebut tercermin melalui aksi akumulasi saham yang dilakukan secara bertahap oleh sejumlah petinggi perseroan.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur Utama AMMN Arief Sidarto membeli 1,6 juta saham perseroan pada 30 Juni 2026 di harga Rp3.105 per saham. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp4,97 miliar.

Langkah serupa kemudian dilakukan Direktur AMMN Anthony Mathias yang mengakumulasi 1,69 juta saham sepanjang 1–2 Juli 2026 pada kisaran harga Rp3.120 hingga Rp3.510 per saham, dengan total transaksi sekitar Rp5,6 miliar.

Aksi pembelian saham juga diikuti dua anggota direksi lainnya. Aditya Sasmito membeli 850.000 saham AMMN pada 6 Juli 2026 di harga Rp3.530 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp3 miliar.

Terbaru, Lal Naveen Chandra turut menambah kepemilikan dengan memborong 1 juta saham pada harga Rp3.565 per saham. Setelah transaksi tersebut, Naveen Chandra tercatat memiliki total 53.161.300 lembar saham AMMN.

Seluruh transaksi tersebut telah dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia sesuai Peraturan OJK Nomor 4 Tahun 2024. Dalam keterbukaan informasi, tujuan transaksi ditegaskan sebagai "investasi pribadi".

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menilai aksi pembelian saham oleh jajaran direksi AMMN merupakan sinyal yang layak dicermati investor karena dilakukan secara kolektif.

"Gerakan borong saham yang dilakukan jajaran direksi AMMAN ini bisa mengindikasikan bahwa manajemen melihat prospek masa depan perusahaan yang positif, dengan kinerja bisnis yang solid. Terlebih saat ini pasar sedang tertekan oleh sentimen makro dan capital outflow asing, yang tidak mencerminkan fundamental atau kondisi bisnis perusahaan yang sebenarnya,” ujar Nafan saat dihubungi media, Rabu (8/7/2026).

Pandangan tersebut sejalan dengan laporan inisiasi riset BRI Danareksa Sekuritas yang memberikan rekomendasi Buy untuk saham AMMN dengan target harga Rp6.000 per saham.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey Eko Nugroho menilai AMMN tengah memasuki fase pertumbuhan yang signifikan pada 2026. Proyeksi tersebut ditopang oleh peningkatan produksi Fase 8 Tambang Batu Hijau serta optimalisasi fasilitas hilirisasi melalui smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR).

Dalam riset tersebut, pendapatan AMMN diproyeksikan mencapai sekitar US$4 miliar pada 2026 atau tumbuh 117% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, EBITDA diperkirakan meningkat 97% menjadi sekitar US$2 miliar.

Target harga Rp6.000 per saham tersebut dihitung menggunakan metode valuasi Sum of the Parts, yang juga memperhitungkan potensi pengembangan Proyek Elang pada masa mendatang.

Meski demikian, secara kinerja harga saham, AMMN masih berada dalam tren pelemahan sejak awal tahun. Hingga Senin (6/7/2026), saham perseroan tercatat turun 44,28% secara year to date (ytd) ke level Rp3.580 per saham. Namun dalam satu bulan terakhir, saham AMMN berhasil menguat sekitar 8%.

Menurut Nafan, penguatan tersebut tidak terlepas dari kenaikan harga emas dan tembaga di pasar global. Permintaan tembaga yang terus meningkat, terutama untuk industri kendaraan listrik dan pembangunan data center, menjadi katalis positif bagi emiten yang memiliki eksposur besar pada kedua komoditas tersebut.

AMMN sendiri dikenal sebagai produsen tembaga dan emas dengan kadar bijih yang tinggi sehingga memiliki sensitivitas yang kuat terhadap pergerakan harga komoditas dunia.

“Darii sisi fundamental, kinerja operasional Amman dalam beberapa tahun terakhir masih relatif solid. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki daya tahan yang cukup baik dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk volatilitas harga komoditas maupun dinamika ekonomi global. Apabila tren produksi, efisiensi operasional, dan prospek proyek pengembangan tetap berjalan sesuai rencana, maka fundamental tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja perusahaan dan harga saham dalam jangka menengah hingga panjang,” pungkas Nafan.

Nata Kesuma

Redaksi

Nata Kesuma adalah seorang jurnalis dan penulis yang berbasis di Indonesia. Dengan rekam jejak karier lebih dari enam tahun di Industry.co.id, ia telah menghasilkan lebih banyak artikel dengan total jangkauan jutaan pembaca. Spesialisasinya mencakup politik nasional, kebijakan pemerintah, industri manufaktur, serta sektor keuangan dan energi. Nata dikenal dengan gaya penulisan yang informatif dan tajam, kerap mengangkat topik-topik strategis seperti hilirisasi industri, kebijakan ekonomi pemerintah, serta perkembangan kawasan industri Jababeka. Selain dunia jurnalisme, ia juga aktif sebagai kreator digital yang memproduksi konten-konten evergreen seputar pendidikan, UMKM, dan gaya hidup.

Lihat semua artikel →