Meski Pendapatan Turun 5,9% pada 2025, Sennheiser Tetap Gelontorkan Investasi Riset Rp 911 Miliar

Oleh : Hariyanto | Rabu, 01 Juli 2026 - 11:01 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Produsen solusi audio profesional Sennheiser Group menghadapi tekanan perlambatan ekonomi global sepanjang tahun fiskal 2025. Pendapatan perusahaan keluarga asal Jerman itu tercatat sebesar 463,1 juta euro atau sekitar Rp 8,72 triliun (asumsi kurs Rp 18.830 per euro), turun 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, perusahaan tetap mempertahankan strategi investasi jangka panjang, terutama di bidang penelitian dan pengembangan (R&D).

Di tengah pelemahan permintaan dan persaingan industri yang semakin ketat, Sennheiser membukukan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) sebesar 19,4 juta euro atau sekitar Rp 365,3 miliar.

CEO Sennheiser Group Andreas Sennheiser mengatakan tekanan ekonomi dan geopolitik masih menjadi tantangan utama bagi industri audio profesional. Menurutnya, perusahaan sejak awal menyadari bahwa perubahan kondisi pasar bukan sekadar fenomena sementara.

"Tahun 2025 kembali menjadi tahun yang penuh tantangan, baik dari perspektif ekonomi maupun geopolitik," ujar Andreas Sennheiser.

Chairman of the Board of Directors Sennheiser Group Daniel Sennheiser menambahkan, fokus perusahaan kini adalah menjaga kedekatan dengan pelanggan sambil tetap menjalankan proyek-proyek strategis yang menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.

"Hal ini menjadikan kemampuan untuk tetap responsif, terus mendorong berbagai proyek strategis utama, serta menjaga kedekatan dengan pelanggan menjadi semakin penting bagi kami. Kami dapat mewujudkannya berkat arah strategi yang jelas dan komitmen tim kami di seluruh dunia yang sekaligus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan di masa depan," katanya.

Secara regional, kawasan EMEA masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan 215,8 juta euro atau sekitar Rp 4,06 triliun, meski turun 7%. Pasar Jerman menjadi penyumbang penurunan terbesar akibat lemahnya permintaan domestik.

Di kawasan Amerika, pendapatan mencapai 142,6 juta euro atau sekitar Rp 2,69 triliun, turun 5,2% di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik di Amerika Serikat. Sementara kawasan Asia Pasifik (APAC) membukukan pendapatan 104,7 juta euro atau sekitar Rp 1,97 triliun, turun 4,5%. Di tengah pelemahan tersebut, India tetap menjadi pasar dengan pertumbuhan paling menjanjikan.

"Kinerja masing-masing wilayah pada tahun fiskal 2025 mencerminkan kondisi ekonomi global yang masih penuh volatilitas," ujar Daniel Sennheiser.

Andreas Sennheiser menambahkan bahwa peluang ekspansi di kawasan Amerika dan India masih terbuka lebar.

"Di wilayah AMERICAS, kami terus melihat peluang pertumbuhan yang signifikan meskipun dihadapkan pada tekanan persaingan yang tinggi, khususnya di segmen broadcast dan immersive audio. Sementara itu, di APAC, India menunjukkan potensi besar yang muncul seiring dengan semakin luasnya adopsi teknologi di lingkungan universitas, institusi publik, dan sektor korporasi," katanya.

Di tengah penurunan pendapatan, Sennheiser tetap agresif berinvestasi. Perusahaan mengalokasikan dana penelitian dan pengembangan sebesar 48,1 juta euro atau sekitar Rp 905,7 miliar, setara sekitar 10% dari total pendapatan. Selain itu, investasi sebesar 5,8 juta euro atau sekitar Rp 109,2 miliar dikucurkan untuk memperkuat fasilitas produksi di Jerman dan Rumania.

Salah satu hasil investasi tersebut adalah Spectera, ekosistem wireless broadband bidirectional yang mulai dikirimkan kepada pelanggan pada 2025 setelah dikembangkan lebih dari satu dekade.

"Bagi kami, Spectera bukan sekadar produk baru, melainkan sebuah pendekatan yang sepenuhnya baru. Ekosistem ini terus berkembang, fungsi-fungsi baru dapat ditambahkan melalui software, dan masukan dari pelanggan dapat langsung diintegrasikan ke dalam proses pengembangan lebih lanjut," ujar Andreas Sennheiser.

Selain memperluas portofolio melalui Spectera, Sennheiser juga meluncurkan sejumlah produk baru seperti mikrofon MKH 8018, pengembangan platform EW-DX, hingga TeamConnect Ceiling Medium Ceiling Tile untuk mendukung kebutuhan ruang rapat hybrid. Di sisi lain, Neumann memperkenalkan teknologi monitoring audio imersif RIME serta Virtual Immersive Studio (VIS) untuk Apple Vision Pro.

Perusahaan juga mencatat pertumbuhan bisnis otomotif melalui Sennheiser Mobility yang didorong peluncuran Signature Sound System pada sejumlah model kendaraan smart, Morgan Supersport, serta kemitraan dengan CUPRA.

Memasuki 2026, manajemen memperkirakan tekanan ekonomi global masih akan berlanjut. Untuk memperkuat daya saing, perusahaan menggabungkan unit bisnis Pro Audio dan Business Communication agar mampu menghadirkan solusi audio yang lebih terintegrasi.

"Kami tidak memperkirakan bahwa lingkungan ekonomi dan geopolitik akan menjadi lebih mudah dalam jangka pendek," ujar Daniel Sennheiser.

Sementara Andreas Sennheiser menegaskan, integrasi kedua unit bisnis tersebut bertujuan menghadirkan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

"Saat ini, pelanggan kami lebih banyak berpikir berdasarkan aplikasi dan alur kerja serta mengharapkan pengalaman yang sederhana dan konsisten di seluruh touchpoint. Dengan langkah ini, kami membangun fondasi penting untuk kembali memperkuat posisi di pasar dan bersama pelanggan menciptakan masa depan industri audio," tuturnya.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →