XJTLU Perkuat Ekspansi di Indonesia, Rekrutmen Mahasiswa Kian Agresif
INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Xi’an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU) terus memperkuat posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi internasional di Indonesia. Tingginya minat mahasiswa Indonesia menjadikan Tanah Air sebagai pasar internasional terbesar bagi universitas hasil kolaborasi Xi’an Jiaotong University, Tiongkok, dan University of Liverpool, Inggris, tersebut.
Hingga saat ini, sekitar 700 mahasiswa Indonesia tengah menempuh pendidikan di XJTLU. Sementara itu, untuk penerimaan mahasiswa baru pada September 2026, jumlah aplikasi program sarjana dari Indonesia telah menembus lebih dari 1.500 pendaftar atau sekitar 38% dari total aplikasi internasional.
Executive President XJTLU, Professor Youmin Xi, mengatakan keberagaman menjadi salah satu keunggulan utama kampus yang dipimpinnya. Menurut dia, lingkungan internasional tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan global.
"Saat ini XJTLU memiliki tenaga pengajar yang berasal lebih dari 60 negara dan wilayah yang berbeda-beda dari seluruh dunia. Dan mahasiswa kami juga berasal dari hampir 100 negara dan wilayah yang berbeda, sehingga mahasiswa di kampus kami sudah terbiasa dengan atmosfer ragam budaya yang berbeda," ujar Professor Xi dalam Media Session XJTLU di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan, pendekatan pendidikan di XJTLU tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan kebijaksanaan melalui perpaduan perspektif Timur dan Barat.
"Model edukasi kami adalah bagaimana kami dapat membantu mahasiswa untuk tumbuh dengan kemampuan berpikir yang cepat dan penuh dengan kebijaksanaan. Mereka dapat mengembangkan berbagai kemampuan, bahkan berkolaborasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Kami juga mendukung mereka untuk membangun wisdom dengan mengintegrasikan pengetahuan dari perspektif Barat dan Timur," katanya.
Saat ini XJTLU menawarkan lebih dari 100 program studi yang mencakup bidang sains, teknik, bisnis, keuangan, arsitektur, perencanaan kota, bahasa, hingga budaya. Seluruh program diajarkan dalam bahasa Inggris, kecuali mata kuliah umum dan dasar. Mahasiswa program sarjana juga memperoleh dua gelar sekaligus, yakni gelar dari XJTLU yang diakui Kementerian Pendidikan Tiongkok dan gelar dari University of Liverpool yang diakui secara global.
Dari sisi alumni, lulusan XJTLU asal Indonesia, Tuty Julfa, menilai pengalaman kuliah di kampus tersebut memberikan nilai tambah tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga pengembangan karakter dan keterampilan interpersonal.
"Saya merasa sangat beruntung dapat berkuliah di XJTLU utamanya karena tidak hanya kemampuan hard skill namun juga soft skill untuk pengembangan karir saya. Jadi bukan hanya bidang akademik saja namun juga interpersonal skill, bagaimana kita mengasah kegigihan dan ketekunan. Sesuatu yang tampaknya sederhana namun sangat berperan penting karena itu yang mengubah dan membentuk saya," ujar Tuty yang kini berbisnis di sektor fashion retail.
Sebagai bagian dari strategi ekspansi internasional, XJTLU telah membuka kantor perwakilan resmi di Indonesia sejak 2024. Pada Juni tahun ini, universitas tersebut juga menambah staf rekrutmen untuk memperluas jangkauan layanan bagi calon mahasiswa Indonesia.
Selain itu, XJTLU telah menjalin kemitraan dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, di antaranya Binus University, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Petra Christian University Surabaya, serta bekerja sama dengan berbagai sekolah dan agen pendidikan.
Memasuki usia ke-20, XJTLU juga menempatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian integral dalam sistem pembelajaran. Namun, Professor Xi menegaskan AI diposisikan sebagai alat pendukung pendidikan, bukan pengganti peran manusia dalam proses belajar.
"Tahun ini adalah tahun ke-20 universitas kami. Dunia di masa depan membutuhkan pilar baru, yaitu individu yang mampu bekerja berdampingan dengan AI. Sejak tahun pertama, mahasiswa kami sudah belajar apa itu AI, bagaimana cara menggunakan AI, dan apa itu etika AI. Kami menggunakan AI untuk mendukung edukasi, melakukan upgrade, restructure, dan reshape. Tapi, kami tidak ingin menggunakan AI untuk menggantikan edukasi. Jika ada manusia, edukasi akan bertahan sepanjang masa. Filosofi kami adalah X plus AI, bukan AI plus X," pungkasnya.