Kelebihan dan Kekurangan Mobil Listrik: Analisis Berdasarkan Data 2026

Oleh : Candra Mata | Senin, 29 Juni 2026 - 00:15 WIB · 6 menit baca Baca versi lengkap →
Highlights
  • Biaya operasional mobil listrik Rp 200-400/km vs Rp 800-1.200/km untuk mobil BBM — selisih 3-4 kali lipat
  • Indonesia baru punya 1.782 stasiun pengisian (SPKLU) per Mei 2026, masih timpang vs 5.500+ SPBU
  • Baterai lithium-ion kehilangan 2-3% kapasitas per tahun, garansi pabrikan rata-rata 8 tahun/160.000 km
  • Harga beli mobil listrik 20-40% lebih mahal dari konvensional, meski PPnBM 0% sudah berlaku
  • Emisi CO₂ turun 50-70% dibanding mobil BBM meski listrik masih dari batu bara

INDUSTRY.co.id — Jakarta, tren mobil listrik di Indonesia terus naik sejak 2023. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan kendaraan listrik baterai (BEV) mencapai 17.041 unit sepanjang 2025, naik 68% dari 10.141 unit pada 2024. Tapi apakah sudah saatnya beralih dari mobil berbahan bakar minyak?

Artikel ini membahas kelebihan dan kekurangan mobil listrik berdasarkan data dari Kementerian ESDM, IEA Global EV Outlook 2025, dan pengalaman nyata pemilik di Indonesia.

Daftar Isi

Kelebihan Mobil Listrik

1. Biaya Energi Jauh Lebih Murah

Tarif listrik PLN golongan R-1 (rumah tangga) Rp 1.444,70/kWh. Mobil listrik rata-rata mengonsumsi 15-20 kWh per 100 km. Artinya, biaya per kilometer hanya Rp 200-400. Bandingkan dengan mobil BBM yang menghabiskan 1 liter bensin untuk 10-12 km — dengan harga Pertalite Rp 10.000/liter, biayanya Rp 800-1.000/km.

Untuk penggunaan harian 40 km, penghematan bulanan bisa mencapai Rp 720.000-960.000 dibanding mobil bensin.

2. Perawatan Lebih Sederhana

Mobil listrik tidak punya mesin pembakaran internal. Artinya: tidak ada penggantian oli, tidak ada busi, tidak ada filter bahan bakar, tidak ada timing belt. Studi Consumer Reports 2024 menunjukkan biaya perawatan mobil listrik 40% lebih rendah dari mobil konvensional selama masa kepemilikan.

Komponen utama yang tetap perlu perawatan: ban, rem (lebih awet karena regenerative braking), cairan pendingin baterai, dan cabin air filter.

3. Emisi Lebih Rendah

Bahkan dengan komposisi energi listrik Indonesia yang masih 60% batu bara (data PLN 2025), emisi well-to-wheel mobil listrik tetap 50-70% lebih rendah dari mobil BBM. IEA memproyeksikan rasio ini akan membaik seiring target bauran energi baru terbarukan 23% pada 2025 dan 31% pada 2030.

4. Insentif Pemerintah

Pemerintah memberikan PPnBM 0% untuk kendaraan listrik baterai sejak Maret 2023. Beberapa daerah juga memberikan keringanan pajak kendaraan bermotor (PKB) hingga 0%. Ini memangkas harga beli signifikan — misalnya Hyundai Ioniq 5 yang semula Rp 800 jutaan menjadi sekitar Rp 749 juta setelah insentif.

Kekurangan Mobil Listrik

1. Harga Beli Masih Mahal

Murahnya mobil listrik termurah di Indonesia (Wuling Air EV) di Rp 243 juta, sementara mobil bensin sekelasnya (Toyota Agya) di Rp 168 juta. Selisih Rp 75 juta atau sekitar 44%. Untuk segmen menengah, selisihnya makin lebar — Hyundai Ioniq 5 Rp 749 juta vs Hyundai Tucson Rp 557 juta.

Dengan penghematan bahan bakar Rp 8-10 juta per tahun, butuh 7-9 tahun untuk balik modal dari selisih harga beli. Ini belum termasuk risiko depresiasi baterai.

2. Infrastruktur Pengisian Terbatas

Data Kementerian ESDM per Mei 2026 mencatat baru 1.782 SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Umum Listrik) di seluruh Indonesia. Jumlah ini timpang dibanding 5.500+ SPBU yang sudah tersebar hingga kecamatan.

Distribusi juga tidak merata — lebih dari 60% SPKLU terkonsentrasi di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Provinsi seperti Kalimantan Utara, Papua, dan NTT masih sangat minim.

3. Waktu Pengisian Lama

Pengisian AC (slow charging) 7 kW butuh 6-8 jam dari kosong ke penuh. Fast charging DC 50 kW memangkas jadi 45-60 menit untuk 80%, tapi belum tersedia di semua SPKLU. Ultra-fast 150 kW+ baru ada di beberapa lokasi premium seperti mal dan dealer resmi.

Ini berbeda dari mobil BBM yang butuh 3-5 menit untuk mengisi penuh. Untuk perjalanan jarak jauh, waktu pengisian bisa menambah 1-2 jam perjalanan.

4. Depresiasi Baterai

Baterai lithium-ion kehilangan 2-3% kapasitas per tahun (data BloombergNEF 2025). Setelah 8 tahun, kapasitas tersisa sekitar 75-80%. Garansi pabrikan umumnya 8 tahun atau 160.000 km, tapi penggantian baterai di luar garansi bisa menelan Rp 80-150 juta tergantung tipe kendaraan.

5. Jarak Tempuh Terbatas

Mobil listrik di Indonesia rata-rata punya jarak tempuh 200-400 km per pengisian penuh (WLTP). Angka real-world biasanya 15-20% lebih rendah tergantung kondisi jalan, AC, dan kecepatan. Wuling Air EV misalnya, cuma 200 km — cukup untuk harian di kota, tapi kurang praktis untuk perjalanan antarkota.

Perbandingan Biaya Total Kepemilikan (5 Tahun)

Komponen Mobil Listrik Mobil BBM
Harga beli Rp 450 juta Rp 350 juta
Bahan bakar/energi (5 th) Rp 25 juta Rp 75 juta
Perawatan (5 th) Rp 15 juta Rp 35 juta
Pajak kendaraan (5 th) Rp 5 juta Rp 15 juta
Total Rp 495 juta Rp 475 juta

Dengan asumsi penggunaan 15.000 km/tahun dan harga Pertalite Rp 10.000/liter, total cost of ownership (TCO) mobil listrik masih sedikit lebih mahal dalam 5 tahun pertama. Namun jika harga BBM naik atau penggunaan harian lebih tinggi, mobil listrik mulai unggul di tahun ke-4.

Kondisi Infrastruktur Indonesia 2026

PLN mencatat pertumbuhan SPKLU sebesar 45% dari 2024 ke 2025. Target pemerintah adalah 5.000 SPKLU pada akhir 2026. Tapi realisasi masih di bawah target — baru 1.782 unit per Mei 2026.

Beberapa tantangan infrastruktur:

  • Kapasitas jaringan listrik — Beberapa wilayah belum siap menangani beban tambahan dari fast charging
  • Standar konektor — Masih ada perbedaan tipe (CCS2, CHAdeMO, Type 2) antar merek
  • Biaya pemasangan home charger — Rp 3-8 juta tergantung daya dan jarak dari meteran listrik
  • Monitoring real-time — Aplikasi ChargEV dan PLN Mobile belum terintegrasi sempurna

FAQ

Apakah mobil listrik aman dari kebakaran?

Tingkat kebakaran mobil listrik sebenarnya lebih rendah dari mobil BBM. Data NTSB (National Transportation Safety Board) AS menunjukkan 25 insiden kebakaran per 100.000 penjualan untuk EV vs 1.530 untuk mobil BBM. Namun, baterai lithium yang terbakar butuh penanganan khusus dan air dalam jumlah besar.

Berapa lama baterai mobil listrik bertahan?

Rata-rata 8-15 tahun tergantung pola penggunaan. Pengisian fast charging terlalu sering mempercepat degradasi. Produsen seperti Tesla dan Hyundai memberikan garansi 8 tahun/160.000 km dengan ketentuan kapasitas minimum 70%.

Apakah mobil listrik bisa dicuci di tempat cuci biasa?

Bisa. Semua mobil listrik yang dijual di Indonesia sudah memiliki rating IP67 untuk komponen kelistrikan, artinya tahan air. Tapi hindari pressure wash langsung ke area charging port.

Key Takeaways
  • Mobil listrik unggul di biaya operasional dan perawatan, tapi kalah di harga beli dan infrastruktur
  • Untuk penggunaan harian dalam kota (< 100 km/hari), mobil listrik sudah sangat masuk akal secara ekonomi
  • Untuk perjalanan antarkota rutin, pertimbangkan hybrid atau tunggu infrastruktur SPKLU lebih merata
  • TCO mobil listrik mulai unggul di tahun ke-4-5, cocok untuk pembeli yang berpikir jangka panjang
  • Pantau terus insentif pemerintah — kebijakan PPnBM 0% bisa berubah sewaktu-waktu

Baca juga: 5 Rekomendasi Mobil Listrik Dibawah 300 Juta Yang Nyaman Dibawa Liburan Keluar Kota

Sumber data: IEA Global EV Outlook 2025, Kementerian ESDM, Gaikindo, PLN, BloombergNEF, Consumer Reports

Candra Mata

Redaksi

Candra Mata adalah seorang jurnalis dan wartawan di media cetak dan portal berita online nasional bernama Industry.co.id, tercatat aktif sebagai salah satu tim redaksi dan jurnalis yang mengulas berbagai perkembangan sektor industri di Indonesia.Fokus Liputan: Artikel berita yang ditulisnya banyak berfokus pada kebijakan ekonomi, aktivitas ekspor-impor, program investasi nasional, perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga inovasi Industri Kecil Menengah (IKM)

Lihat semua artikel →