Pemerintah Suntik Likuiditas Rp400 Triliun ke Himbara, Purbaya Bidik Pertumbuhan Kredit 15 Persen
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pemerintah memperkuat likuiditas sektor perbankan dengan menempatkan dana hingga Rp400 triliun pada bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga fungsi intermediasi perbankan, mempercepat penyaluran kredit ke sektor produktif, sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penempatan dana itu merupakan respons atas mulai mengetatnya likuiditas di industri perbankan.
Menurutnya, ketersediaan likuiditas yang memadai akan memberi ruang lebih besar bagi bank untuk memperluas pembiayaan kepada dunia usaha sehingga aktivitas ekonomi dapat kembali meningkat.
"Jadi akan cukup likuiditas di sektor perbankan kita. Jadi harusnya bunga di pasar akan turun. Ekonomi siap lari lagi," ujar Purbaya saat media briefing di Jakarta, Jumat (26/6).
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden agar berbagai hambatan yang mengganggu laju perekonomian segera dihilangkan.
Dengan iklim likuiditas yang lebih longgar, pemerintah berharap kepercayaan pelaku usaha meningkat sehingga investasi dan ekspansi bisnis dapat kembali bergeliat.
"Pak Presiden ingin ekonominya tetap jalan, semua gangguan dihilangkan. Kalau kita balikan perspektif ekonomi, ekonomi akan lari lagi. Orang cenderung investasi di negara yang ekonominya akan lari," katanya.
Purbaya menilai tambahan likuiditas juga akan membuat mekanisme pasar kembali bekerja secara optimal. Dengan begitu, fungsi intermediasi perbankan dalam menyalurkan kredit kepada sektor riil dapat berlangsung lebih efektif.
"Jadi saya memaksa market mechanism berjalan," tegasnya.
Berdasarkan komunikasi pemerintah dengan sejumlah bank, Purbaya mengungkapkan bahwa tanpa dukungan tambahan likuiditas, pertumbuhan kredit berpotensi melambat hingga kisaran 6–8 persen.
Namun, setelah pemerintah mengembalikan dan menambah penempatan dana di Himbara, rencana ekspansi kredit yang sebelumnya ditunda diperkirakan akan kembali dijalankan.
"Mereka bilang kalau nggak dibantu, kredit akan tumbuh turun pertumbuhannya ke 8 persen, 7 persen, 6 persen. Ketika kita balikin lagi, rencana kredit yang mereka selama ini tahan karena antisipasi kurangnya likuiditas akan dijalankan lagi. Pasti kreditnya tumbuh double digit, mungkin 13-14 persen," jelasnya.
Ia pun optimistis, apabila pengelolaan likuiditas berjalan sesuai skenario pemerintah, pertumbuhan kredit nasional sepanjang tahun ini dapat meningkat hingga mencapai kisaran 14–15 persen.
"Kalau uangnya diatur cukup seperti yang kita desain, pertumbuhan kredit tahun ini tebakan saya bisa 14-15 persen," ujarnya.
Di sisi lain, Menkeu memastikan kebijakan penguatan likuiditas tersebut tidak akan mengganggu kesehatan fiskal negara. Pemerintah tetap menjaga disiplin anggaran sehingga defisit APBN 2026 dipastikan berada di bawah batas maksimal yang telah ditetapkan.
"Yang jelas, kondisi fiskal aman, defisit tidak akan lebih 3 persen, hampir pasti. Kita bisa kendalikan dengan baik karena ruangnya semakin terbuka lebar," pungkas Purbaya.