BRIN Kembangkan Material Multilogam Penangkap CO₂, Dorong Teknologi Rendah Karbon
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Upaya mengembangkan teknologi penangkapan karbon di Indonesia terus menunjukkan kemajuan. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil merancang material komposit multilogam berbasis Layered Double Hydroxides (LDHs) yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengadsorpsi karbon dioksida (CO₂).
Inovasi tersebut diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus memperkuat pengembangan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Peneliti Pusat Riset Katalisis BRIN, Muh. Nur Khoiru Wihadi, menjelaskan bahwa timnya mengembangkan material tersebut melalui pendekatan in-situ engineering. Metode ini dirancang untuk menghasilkan lebih banyak situs aktif pada permukaan material sehingga kemampuan menangkap molekul CO₂ meningkat.
"Pendekatan multilogam ini bertujuan menciptakan efek sinergis yang dapat meningkatkan luas permukaan, jumlah situs aktif, stabilitas, karakteristik pori, dan kapasitas adsorpsi CO₂. Pendekatan tersebut juga menghadirkan kebaruan dalam pengembangan material komposit berbasis LDHs," ujar Wihadi dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, penggunaan beberapa jenis logam dalam struktur LDHs mampu memperkuat interaksi antara permukaan material dan molekul karbon dioksida.
Kombinasi tersebut tidak hanya meningkatkan luas permukaan material, tetapi juga memperbaiki karakteristik pori dan kestabilannya sehingga proses penangkapan karbon berlangsung lebih efektif.
Sejauh ini, tim peneliti telah menghasilkan sejumlah varian material komposit, di antaranya Ni-Al LDHs@karbon, Mn-Ni-Co-Cu-Al LDHs, Mn-Ni-Co-Cu-Fe LDHs, hingga Ni-Ag-Al LDHs yang mengintegrasikan ion perak ke dalam strukturnya.
Hasil riset tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi, seperti Journal of Chemical Technology and Biotechnology serta Greenhouse Gases: Science and Technology.
Berdasarkan hasil pengujian, material komposit multilogam tersebut menunjukkan kapasitas adsorpsi karbon yang lebih tinggi dibandingkan material LDHs konvensional, seperti Mg-Al LDHs.
"Hasil pengujian menunjukkan bahwa komposit multilogam berbasis LDHs memiliki performa penyerapan karbon yang lebih baik dibandingkan material LDHs konvensional, seperti Mg-Al LDHs. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan yang lebih luas dalam teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS)," kata Wihadi.
Selain berpotensi diterapkan dalam teknologi penangkapan karbon, material LDHs juga memiliki prospek di berbagai sektor lain.
Di bidang lingkungan, material ini dapat dimanfaatkan untuk mengolah air limbah melalui penyerapan logam berat maupun zat warna pencemar, serta membantu pemurnian udara dengan menangkap gas berbahaya.
Di sektor energi dan industri kimia, LDHs juga berpotensi berfungsi sebagai katalis dan fotokatalis untuk produksi hidrogen, konversi CO₂ menjadi bahan kimia bernilai tambah, hingga berbagai proses industri lainnya.
Ke depan, BRIN akan memfokuskan penelitian pada penyempurnaan komposisi logam, peningkatan kapasitas adsorpsi, serta pengujian material dalam kondisi operasi yang mendekati lingkungan industri.
"Ke depan, penelitian akan difokuskan pada optimalisasi komposisi logam dan peningkatan kapasitas adsorpsi material. Selain itu, performa material juga akan diuji pada kondisi operasi yang mendekati lingkungan industri sebenarnya. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan teknologi tersebut dapat diimplementasikan secara efektif dalam skala yang lebih besar," ujarnya.
Dengan biaya produksi yang relatif rendah, stabilitas tinggi, dan fleksibilitas dalam rekayasa material, LDHs dinilai memiliki prospek besar sebagai material maju yang mendukung teknologi berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon di masa mendatang.