Industri Film Masuki Era Baru, SHOW Tawarkan Skema Pendanaan Berbasis Token

Oleh : Hariyanto | Jumat, 26 Juni 2026 - 16:42 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Industri hiburan Indonesia mulai dilirik sebagai salah satu sektor yang berpotensi memanfaatkan teknologi blockchain dan kecerdasan buatan (AI) untuk membuka akses pendanaan yang lebih luas. Melalui peluncuran resmi pada Jumat (26/6), SHOW memperkenalkan ekosistem hiburan berbasis blockchain yang ditujukan untuk mengurangi hambatan pendanaan yang selama ini membayangi industri perfilman nasional.

Mengusung tema "Bridging Crypto and Entertainment: Invest Beyond the Screen", SHOW menghadirkan SHOW Token sebagai penggerak utama ekosistem yang mencakup layanan menonton berbasis watch & earn, platform AI dan marketplace untuk produksi konten kreatif, hingga pengembangan intellectual property (IP) animasi lokal melalui SHOW KIDS.

CEO SHOW Token, Akshay Melwani, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan cerita yang besar, namun masih menghadapi kendala dalam menjangkau pasar internasional akibat keterbatasan infrastruktur distribusi.

"Indonesia memiliki kekayaan narasi yang luar biasa, namun sering kali langkah kita terhenti di pasar domestik karena keterbatasan infrastruktur global. Di SHOW, kami tidak menunggu pintu global terbuka untuk kami; kami membangun ekosistem digital baru di mana karya anak bangsa dapat langsung diakses, dimiliki, dan diapresiasi oleh dunia tanpa perantara," ujar Akshay.

Sebagai langkah awal, SHOW Token telah terlibat sebagai Executive Producer dalam film horor Cerita Lila yang diproduksi bersama MVP Pictures. Film tersebut berhasil meraih sekitar 500 ribu penonton pada pekan pertama penayangannya. Kolaborasi akan berlanjut melalui produksi film Sihir Tanah Kubur yang dijadwalkan tayang pada Juli 2026.

Perseroan juga menargetkan pendanaan lebih dari 30 judul film bergenre horor dan drama sepanjang tahun ini. Sejumlah rumah produksi seperti MVP Pictures dan A&Z Production telah masuk dalam daftar mitra, bersama sejumlah studio lokal maupun internasional. Beberapa proyek film yang akan didukung antara lain Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Taboo, Siti Vampire, dan Sebelum Tiga Puluh.

Melalui ekosistem tersebut, pemegang SHOW Token nantinya dapat memperoleh berbagai utilitas, mulai dari kesempatan berpartisipasi dalam pendanaan film melalui skema Decentralized Executive Producing, akses eksklusif di balik layar produksi, hak memberikan suara pada keputusan kreatif tertentu, hingga berbagai penghargaan berbasis kekayaan intelektual (IP).

Di sisi ekspansi, SHOW menyiapkan investasi hingga US$100 juta untuk mengembangkan ekosistem hiburan digital di Asia Tenggara dengan Indonesia sebagai salah satu fokus utama.

COO SHOW, Joshua Khubani, menilai Indonesia memiliki talenta kreatif yang besar, tetapi masih menghadapi tantangan dalam aspek pendanaan dan distribusi karya.

"Target investasi seratus juta dolar kami di Asia Tenggara bukan sekadar tentang angka pertumbuhan, melainkan tentang membangun arsitektur baru bagi ekonomi kreatif digital. Kami memandang Indonesia bukan sebagai pasar konsumtif, melainkan sebagai episentrum talenta yang selama ini kekurangan likuiditas dan sistem distribusi yang efisien. Kami hadir untuk menyelesaikan inefisiensi itu," kata Joshua.

Melalui peluncuran ini, SHOW berharap dapat membangun kolaborasi dengan pemerintah, asosiasi perfilman, serta komunitas teknologi untuk mempercepat adopsi blockchain dan AI dalam industri kreatif. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan model pembiayaan dan distribusi yang lebih inklusif, sekaligus memperluas daya saing karya sineas Indonesia di pasar global.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →