BBTN Akuisisi Kredit Pensiunan Taspen dan Asabri Rp19,9 T, Laba Diproyeksi Naik 5%
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Bank SMBC Indonesia resmi menandatangani perjanjian penjualan portofolio pinjaman senilai sekitar Rp19,9 triliun kepada Bank Tabungan Negara. Portofolio yang dilepas mencakup kredit pensiunan dan calon pensiunan yang manfaatnya dikelola oleh Taspen, serta pembiayaan pensiun dan kredit karyawan aktif yang terkait dengan Asabri dan dana pensiun lainnya.
Nilai transaksi tersebut setara dengan sekitar 46,3% ekuitas BTPN dan 55% ekuitas BBTN per akhir 2025. Dari sisi aset produktif, portofolio ini merepresentasikan sekitar 11% total kredit BTPN dan 5% total kredit BBTN.
Tahap awal akuisisi akan dilakukan pada akhir Juni 2026 dengan pengambilalihan portofolio kredit pensiunan kelolaan Taspen senilai sekitar Rp12,6 triliun. Selanjutnya, BBTN dijadwalkan mengambil alih pembiayaan pensiun dan kredit karyawan kelolaan Asabri senilai sekitar Rp7,3 triliun pada akhir Agustus 2026.
Berdasarkan penjelasan manajemen BBTN, portofolio yang diakuisisi menawarkan profil keuangan yang cukup menarik. Yield kredit berada di kisaran 13–14%, jauh di atas blended loan yield BBTN pada 1Q26 sebesar 7,3%. Selain itu, rasio NPL portofolio tercatat 0% saat akuisisi karena perseroan hanya mengambil performing loans, sementara porsi kredit kolektibilitas 2 hanya sekitar 1% dari total portofolio.
Akuisisi dilakukan dengan harga premium, namun disebut tidak melebihi 5% di atas nilai wajarnya. Pendanaan transaksi akan berasal dari kombinasi dana pihak ketiga internal dan pinjaman bilateral dengan komposisi sekitar 50:50.
Secara strategis, langkah ini dipandang positif bagi BBTN karena berpotensi langsung menambah profitabilitas. Manajemen memperkirakan portofolio tersebut mampu menghasilkan Return on Assets (RoA) sekitar 2%, lebih tinggi dibanding annualized RoA BBTN per 1Q26 yang berada di level 1,1%.
Dengan timeline akuisisi yang berlangsung bertahap sepanjang 2026, transaksi ini diperkirakan dapat meningkatkan laba bersih BBTN sekitar 5% YoY, dengan asumsi kondisi lain tetap sama. Di tengah potensi likuiditas yang lebih ketat pada semester II-2026, tambahan kredit dengan yield tinggi juga dinilai dapat menopang Net Interest Margin (NIM) perseroan.
Akuisisi ini sekaligus mendukung strategi BBTN untuk meningkatkan kontribusi kredit non-perumahan menjadi 30% pada 2030, dari posisi sekitar 18% per April 2026.
Dari sisi permodalan, manajemen memperkirakan rasio dividen tetap berada di kisaran 25% pada 2026 dan berpotensi naik menjadi 30%. Sementara itu, Capital Adequacy Ratio (CAR) BBTN yang berada di level 20,6% per Maret 2026 diproyeksikan hanya turun sekitar 100 bps setelah akuisisi, masih di atas batas aman internal manajemen di level 18–19%.