ESET Siapkan Fitur Perlindungan AI, Antisipasi Risiko Shadow AI di Perusahaan

Oleh : Hariyanto | Jumat, 15 Mei 2026 - 13:22 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Perusahaan keamanan siber global ESET memperkenalkan kemampuan perlindungan kecerdasan buatan (AI) terbaru yang dirancang untuk mengamankan interaksi karyawan dengan berbagai tools AI di lingkungan kerja. Teknologi ini dipamerkan dalam ajang RSAC 2026 dan dijadwalkan meluncur pada akhir tahun ini.

Langkah tersebut dinilai relevan dengan kondisi di Indonesia saat ini, di mana penggunaan AI generatif seperti chatbot dan asisten otomatis semakin masif di sektor korporasi, perbankan, hingga pemerintahan. Di tengah dorongan transformasi digital dan efisiensi kerja, banyak karyawan mulai menggunakan layanan AI berbasis cloud tanpa pengawasan departemen TI perusahaan, memunculkan fenomena yang dikenal sebagai “shadow AI”.

Fenomena ini meningkatkan risiko kebocoran data sensitif perusahaan, mulai dari dokumen internal, API key, kredensial, hingga rahasia bisnis yang tanpa sadar dimasukkan ke dalam platform AI publik.

Direktur Artificial Intelligence ESET, Juraj Jánošík, mengatakan semakin banyak perusahaan mengandalkan AI untuk produktivitas dan otomatisasi, namun di saat bersamaan risiko keamanan ikut meningkat.

“Perusahaan kini menghadapi ancaman baru berupa paparan data sensitif, pelanggaran kepatuhan, hingga keluaran AI yang menyesatkan. Agentic AI juga menggeser medan pertempuran keamanan kembali ke endpoint,” ujar Juraj Jánošík yang dikutip dari TechAfricaNews. 

Ia menambahkan, ESET selama lebih dari 30 tahun mengembangkan perlindungan endpoint berbasis AI dan machine learning sehingga berada pada posisi yang kuat untuk membantu organisasi mengamankan gelombang baru adopsi AI.

Teknologi terbaru ESET bekerja melalui browser aman yang dapat mencegat interaksi AI dan menganalisis prompt maupun respons secara real-time. Dengan pendekatan tersebut, sistem dapat mendeteksi potensi kebocoran data, tautan berbahaya, hingga konten manipulatif sebelum berdampak kepada pengguna.

Dalam demonstrasi di RSAC 2026, fitur perlindungan AI tersebut mampu menandai URL berbahaya yang dimasukkan melalui prompt chatbot. Aktivitas itu kemudian dicatat di endpoint dan ditampilkan dalam platform ESET PROTECT untuk proses investigasi lebih lanjut.

Teknologi serupa juga dapat mendeteksi upaya prompt injection, script mencurigakan, serta input data sensitif. Perusahaan nantinya bisa memblokir atau memantau aktivitas AI sesuai kebijakan internal masing-masing.

Di Indonesia, ancaman serangan siber berbasis AI mulai menjadi perhatian serius seiring meningkatnya adopsi AI generatif di dunia kerja. Pelaku kejahatan siber kini memanfaatkan AI untuk mempercepat serangan phishing, rekayasa sosial, hingga pembuatan malware yang lebih sulit dideteksi.

Selain risiko penggunaan chatbot AI, ESET juga menyoroti ancaman baru dari rantai pasok AI atau AI supply chain. Ancaman ini muncul melalui framework dan library AI yang telah disusupi malware, termasuk komponen trojan pada library populer seperti LiteLLM.

ESET juga mengingatkan potensi risiko dari autonomous AI agent seperti OpenClaw yang mampu menjalankan aksi pada sistem dengan pengawasan terbatas.

Menurut ESET, tren serangan melalui supply chain AI diperkirakan meningkat seiring semakin luasnya penggunaan AI agent di lingkungan perusahaan.

Sebagai bagian dari pengembangan keamanan AI, ESET turut meluncurkan ESET AI Skills Checker secara gratis dalam RSAC 2026. Fitur ini dapat digunakan untuk memindai kemampuan AI terhadap instruksi tersembunyi, kode berbahaya, dan perilaku berisiko melalui sistem inspeksi berlapis dan sandbox berbasis cloud.

ESET menyebut inovasi tersebut menjadi bagian dari strategi menghadapi lanskap ancaman siber baru, di mana penjahat siber semakin memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi serangan dan meningkatkan efektivitas social engineering terhadap karyawan perusahaan.

Tak hanya itu, ESET juga menjadi satu-satunya perusahaan keamanan siber yang tergabung dalam Agentic AI Foundation bersama sejumlah perusahaan teknologi besar seperti OpenAI, Amazon, Microsoft, dan Anthropic untuk mengembangkan standar keamanan komunikasi antar AI agent di masa depan.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →