Laba Bank Neo Commerce Tembus Rp136,98 Miliar di Kuartal I 2026, Kredit Masih Terkoreksi
INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Bank Neo Commerce (BNC) membuka tahun 2026 dengan kinerja yang tetap terjaga di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik. Emiten perbankan digital berkode saham BBYB ini membukukan laba bersih sebesar Rp136,98 miliar pada kuartal I 2026, melanjutkan tren profitabilitas yang telah terbangun sejak tahun lalu.
Capaian laba tersebut menjadi penanda bahwa strategi efisiensi dan kehati-hatian yang dijalankan perseroan masih mampu menopang kinerja, meskipun ekspansi kredit dan penghimpunan dana belum sepenuhnya agresif.
Direktur Utama Eri Budiono mengatakan kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian membuat perseroan memilih langkah ekspansi yang lebih terukur, khususnya di segmen digital retail.
“Di tengah banyaknya ketidakpastian yang sedang terjadi dan keadaan geopolitik yang tengah bergejolak di beberapa belahan dunia, Bank Neo Commerce terus berupaya menjalankan bisnis dengan baik dan tetap memperhatikan tata kelola. Kami fokus untuk mendorong pertumbuhan kredit di segmen digital retail secara hati-hati dan memperkuat ekosistem digital kami,” ujar Eri di Jakarta, Rabu (29/4).
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BNC tercatat sebesar Rp13,42 triliun per akhir Maret 2026, turun 1,97% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp13,69 triliun. Meski demikian, struktur pendanaan menunjukkan pergeseran ke arah dana murah.
Tabungan tumbuh 8,62% secara tahunan menjadi Rp3,50 triliun dari sebelumnya Rp3,22 triliun. Sebaliknya, deposito menyusut 2,18% menjadi Rp9,35 triliun dari Rp9,56 triliun. Pergeseran komposisi ini mendorong rasio current account saving account (CASA) perseroan ke level 30,34%.
Di sisi intermediasi, penyaluran kredit masih mengalami tekanan. Hingga akhir kuartal pertama tahun ini, kredit yang disalurkan BNC tercatat sebesar Rp7,03 triliun, turun 17,24% dibandingkan Rp8,49 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Manajemen menilai kontraksi kredit merupakan konsekuensi dari strategi penyaluran yang lebih selektif guna menjaga kualitas aset. Langkah itu tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net yang tetap rendah di level 0,43%.
Meski kredit terkontraksi, total aset BNC masih mampu tumbuh tipis 0,94% menjadi Rp18,34 triliun hingga Maret 2026, dibandingkan Rp18,17 triliun pada akhir Maret 2025.
Dari sisi efisiensi, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) tercatat di level 83,68%, sementara cost to income ratio (CIR) berada di angka 32,93%. Adapun net interest margin (NIM) masih terjaga tinggi di level 13,50%, mencerminkan kemampuan perseroan menjaga profitabilitas di tengah tekanan likuiditas industri.
Yang cukup menonjol adalah penguatan permodalan. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) melonjak menjadi 50,60%, jauh lebih tinggi dibandingkan 35,81% pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini ditopang akumulasi laba bersih dan mempertegas ruang ekspansi perseroan ke depan.
Eri menyebut capaian laba pada awal tahun bahkan telah melampaui target internal perseroan.
“Bank Neo Commerce kembali membuktikan dapat mencatatkan raihan laba yang baik di Kuartal I/2026 yang melebihi target yang sudah kami tetapkan. Kami optimistis untuk tetap dapat meneruskan tren kinerja yang positif di sepanjang tahun 2026 ini,” kata dia.
Untuk memperkuat ekosistem layanan digital, BNC juga menyiapkan peluncuran layanan buy now pay later (BNPL) pada tahun ini. Produk tersebut digadang menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses pembiayaan berbasis digital yang lebih relevan dengan kebutuhan nasabah.
Sentimen positif juga datang dari pasar modal. Saham BBYB resmi masuk dalam Indeks Economic 30 sejak 2 Maret 2026. Masuknya saham perseroan ke indeks tersebut dinilai menjadi cerminan meningkatnya kepercayaan investor terhadap fundamental dan prospek bisnis BNC.
Sepanjang 2025, perseroan membukukan laba bersih Rp565,69 miliar, yang kini berlanjut dengan kinerja positif pada awal 2026. Dengan permodalan kuat, kualitas aset terjaga, dan ekspansi produk digital baru, Bank Neo Commerce tampak berupaya menjaga momentum pertumbuhan di tengah industri perbankan yang masih menghadapi tantangan likuiditas dan kompetisi digital yang kian ketat.