Kopitiam Kian Diminati, Jadi Primadona Baru Industri Kedai Kopi Indonesia

Oleh : Hariyanto | Jumat, 24 April 2026 - 16:26 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Tren ngopi di Indonesia terus menunjukkan geliatnya. Hingga November 2025, jumlah kedai kopi di Tanah Air tercatat menembus lebih dari 461 ribu unit, mulai dari kafe modern, kedai tradisional, hingga warung kopi sederhana.

Di tengah ramainya persaingan, konsep kopitiam justru muncul sebagai sub-segmen yang kian mencuri perhatian, terutama di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Medan.

Berbeda dengan coffee shop kekinian yang menonjolkan teknik seduh dan origin biji kopi, kopitiam menawarkan pendekatan rasa yang lebih membumi. Berakar dari budaya Asia Tenggara dan populer sejak awal abad ke-20 di Malaysia dan Singapura, kopitiam mengandalkan menu andalan seperti kopi tarik, teh tarik, susu, serta pendamping legendaris kaya toast.

Karakter rasa yang familiar sekaligus membangkitkan nostalgia itu dinilai menjadi daya tarik utama bagi konsumen masa kini.

Coffee Enthusiast sekaligus Runner-up Asian FBC Singapore 2012, Doddy Samsura, menilai pergeseran selera menjadi motor utama tumbuhnya kopitiam.

“Pertumbuhan kopitiam di Indonesia tidak lepas dari perubahan preferensi konsumen yang kini cenderung mencari minuman yang lebih approachable, tidak terlalu kompleks, tetapi tetap kaya rasa dan nyaman dinikmati kapan saja,” ungkap Doddy.

Ia menambahkan, faktor familiarity juga berperan besar karena profil rasa kopitiam relatif dekat dengan selera masyarakat lokal. 

Menurut Doddy, jika specialty coffee berfokus pada origin dan teknik seduh, kopitiam justru menekankan pada blending dan konsistensi. “Di situlah kompleksitasnya, bagaimana menciptakan rasa yang stabil dan bisa diterima oleh berbagai segmen,” jelasnya. 

Posisi kopitiam yang berada di antara traditional coffee dan modern café membuatnya punya identitas kuat namun tetap mudah diterima pasar. Tak heran, konsep ini dinilai tak hanya relevan secara konsumen, tetapi juga menarik untuk dikembangkan dari sisi bisnis.

Sebagai brand yang lahir di Malaysia, Dairy Champ disebut telah lama menjadi bagian dari budaya kopitiam di negara asalnya. Produk ini dikenal dengan profil rasa khas dan konsisten, yang kini juga dimanfaatkan di Indonesia untuk berbagai aplikasi minuman dan dessert bergaya kopitiam.

Tekstur creamy yang lembut serta keseimbangan rasa manis yang stabil, baik untuk sajian panas maupun dingin, menjadi elemen penting dalam membentuk signature taste yang mudah dikenali.

Head of Marketing PT Etika Beverages Indonesia, Dodi Afandi, melihat ada peluang sekaligus tantangan dalam tren ini. “Tren kopitiam di Indonesia berkembang sangat cepat, namun kami melihat masih ada gap yang cukup besar dalam hal autentisitas rasa. Banyak menu yang terlihat serupa, tetapi belum menghadirkan pengalaman yang benar-benar khas seperti yang ditemukan di Malaysia,” kata Dodi.

Ia menegaskan, ke depan konsistensi dan karakter rasa mulai dari tekstur creamy hingga keseimbangan rasa akan menjadi kunci bagi pelaku usaha untuk membangun diferensiasi dan daya saing di pasar.

Tak hanya soal rasa, tren minuman yang “social media friendly” juga mendorong pelaku usaha lebih memerhatikan aspek visual. Tampilan menarik, rasa konsisten, dan storytelling yang kuat disebut menjadi tiga elemen penting untuk memenangkan hati konsumen saat ini.

Penggunaan bahan dengan karakter creamy dan gurih, seperti yang dihadirkan dalam menu kopitiam, dinilai mampu menjawab ketiga kebutuhan tersebut sekaligus menghadirkan pengalaman yang autentik dan berkarakter.

Melihat antusiasme pasar, tren kopitiam diprediksi masih akan terus tumbuh. Perpaduan antara heritage dan gaya hidup modern membuat konsep ini berpotensi menjadi salah satu segmen yang kian diperhitungkan dalam peta industri kafe Indonesia ke depan.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →