Misi President University Menjawab Kebutuhan Industri dan Harapan Orang Tua

Oleh : Hariyanto | Kamis, 23 April 2026 - 09:32 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta — Memasuki usia ke-25 tahun, President University (PU) menegaskan arah barunya dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi di Indonesia. Pendiri sekaligus tokoh di balik kampus tersebut, Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono, menyebut gelar akademik kini bukan lagi jaminan utama keberhasilan lulusan di dunia kerja.

Di tengah menjamurnya lebih dari 4.000 perguruan tinggi di Indonesia, Darmono menilai persoalan utama bukan sekadar mencetak sarjana, melainkan menghasilkan lulusan yang mampu bertahan secara ekonomi dan siap terjun ke industri sejak hari pertama.

“Industri menginginkan lulusan yang sudah siap kerja. Mereka membutuhkan skill, bukan hanya gelar,” ujarnya. 

Ia menyoroti perubahan kebutuhan dunia kerja yang bergerak cepat dan tidak lagi memberi ruang bagi perusahaan untuk melatih lulusan dari nol. Atas dasar itu, President University sejak awal dirancang dengan pendekatan berbeda, menggabungkan teori dan praktik secara langsung.

Mahasiswa didorong untuk menjalani magang sejak tahun pertama, terhubung dengan kawasan industri, serta terlibat dalam pembelajaran berbasis praktik nyata.

Menurut Darmono, akses ke dunia industri menjadi kunci penting dalam membentuk kemandirian mahasiswa. “Kalau mahasiswa tidak bisa masuk pabrik, itu sayang sekali. Di situlah mereka belajar bertahan secara ekonomi,” katanya.

Di sisi lain, ia mengakui masih kuatnya pandangan masyarakat yang menempatkan gelar sebagai simbol utama kesuksesan. Bahkan, kata dia, tidak sedikit orang tua yang mengaitkan pendidikan tinggi dengan masa depan sosial anaknya.

“Orang tua masih berpikir soal gelar. Bahkan sampai memikirkan, apakah nanti anaknya mudah mendapatkan jodoh,” ungkapnya.

Meski demikian, Darmono menekankan bahwa gelar akademik tetap penting, namun harus berjalan beriringan dengan kemampuan nyata. President University, lanjutnya, berupaya menjembatani harapan tersebut dengan memastikan lulusannya tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga keterampilan dan kemandirian ekonomi.

Upaya lain yang ditempuh adalah membangun lingkungan kampus berstandar internasional di dalam negeri. Darmono menilai, untuk menjadi universitas kelas dunia, tidak cukup hanya mengandalkan kurikulum, tetapi juga ekosistem global yang hidup.

Hal ini diwujudkan melalui kebijakan tinggal di asrama, interaksi aktif dengan mahasiswa asing, hingga penggunaan bahasa internasional dalam keseharian kampus.

Ia menargetkan komposisi mahasiswa dan dosen asing mencapai 30 persen dalam jangka panjang. “Kalau tidak ada mahasiswa asing, tidak mungkin kita menciptakan universitas internasional,” ujarnya.

Dalam refleksinya, Darmono juga menyinggung keberhasilan National University of Singapore dan Nanyang Technological University yang mampu menembus jajaran kampus terbaik dunia. Menurutnya, capaian tersebut lahir dari keberanian bereksperimen, kebijakan yang fleksibel, serta koneksi kuat antara pendidikan dan industri.

Semangat serupa, kata dia, menjadi fondasi President University untuk terus mendobrak pola lama yang dinilai terlalu konservatif. Ia berharap kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang lahirnya inovasi dan perubahan.

Menutup pernyataannya, Darmono menegaskan masa depan kampus berada di tangan para alumninya. “Yang memiliki President University ke depan adalah para alumninya,” ujarnya. 

Ia menilai keberhasilan institusi pendidikan tidak diukur dari gedung atau peringkat semata, melainkan dari kualitas lulusan, dampaknya di masyarakat, serta kemampuannya menjadi penggerak perubahan.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →