RELIMA 2026 Diperkuat, Perpusnas Tegaskan Literasi sebagai Kunci Pembangunan Manusia Indonesia
INDUSTRY.co.id - Jakarta – Penguatan budaya literasi nasional kembali menjadi fokus utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). Melalui program Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA), Perpusnas menegaskan bahwa literasi adalah fondasi pembangunan manusia sekaligus penentu martabat bangsa di era informasi.
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menyampaikan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, serta melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Tidak ada satu pun bangsa yang bermartabat jika tingkat literasinya rendah. Literasi adalah fondasi peradaban manusia,” tegasnya dalam wawancara media di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Program Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) menjadi ujung tombak gerakan literasi berbasis komunitas. Pada 2026, sebanyak 360 relawan diterjunkan dan tersebar di sekitar 200 kabupaten/kota di Indonesia.
Langkah ini terbilang strategis, mengingat kondisi anggaran yang mengalami penurunan. Namun, Perpusnas justru memilih memperluas jangkauan relawan sebagai pendekatan berbasis dampak (impact-oriented strategy).
RELIMA hadir untuk menggerakkan pemanfaatan bahan bacaan di masyarakat, sekaligus memberikan pengakuan kepada para pegiat literasi di tingkat akar rumput. Dengan pendekatan langsung ke masyarakat, program ini dinilai lebih efektif membangun budaya baca yang berkelanjutan.
Transformasi perpustakaan juga menjadi agenda penting Perpusnas. Perpustakaan kini diarahkan menjadi ruang inklusif berbasis pemberdayaan sosial, bukan sekadar tempat penyimpanan buku.
Pendekatan inklusi sosial ini memperkuat fungsi perpustakaan sebagai simpul pembangunan sumber daya manusia, terutama di daerah yang akses informasinya masih terbatas.
Penguatan literasi juga didorong melalui kebijakan afirmatif pemerintah dengan alokasi minimal 10 persen dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk pengadaan buku bacaan nonteks.
Kebijakan ini membuka ruang lebih luas bagi sekolah untuk menyediakan bacaan pengayaan yang mampu meningkatkan minat baca siswa. Meski demikian, tantangan masih muncul karena banyak sekolah harus menyeimbangkan kebutuhan buku teks wajib dan buku pengayaan.
Perpusnas menekankan bahwa membangun ekosistem literasi tidak dapat dilakukan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas, hingga masyarakat luas.
Dengan penguatan RELIMA 2026, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, serta dukungan kebijakan pendidikan, Perpusnas optimistis budaya literasi Indonesia akan semakin kokoh.
Literasi bukan hanya agenda pendidikan, tetapi investasi jangka panjang dalam membangun generasi kritis, adaptif, dan berdaya saing global.