Perluas Akses Pasar, Kemenperin Fasilitasi IKM Kriya Tampil di Home InStyle Hong Kong
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Industri kerajinan menjadi salah satu sektor strategis dalam struktur industri nasional karena memiliki kekuatan pada kreativitas, warisan budaya, serta pemanfaatan sumber daya lokal. Di tengah dinamika perdagangan global, sektor ini terus menunjukkan ketahanan dan daya saing yang semakin kuat melalui inovasi desain, peningkatan kualitas produk, serta perluasan akses pasar ekspor.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menjalankan berbagai program strategis untuk mendukung penguatan industri kerajinan. Program tersebut mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, fasilitasi sertifikasi dan standardisasi, penguatan desain dan branding, hingga pembukaan akses pasar internasional melalui partisipasi dalam berbagai ajang pameran global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri kerajinan memiliki peran penting dalam memperkuat struktur industri berbasis nilai tambah sekaligus membawa identitas budaya Indonesia ke kancah internasional.
“Industri kerajinan tidak hanya menjadi penopang ekonomi masyarakat, tetapi juga duta budaya Indonesia di pasar global,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (11/3).
Sebagai bagian dari strategi perluasan akses pasar global, Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) memfasilitasi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan untuk berpartisipasi dalam pameran internasional Home InStyle 2026 yang akan diselenggarakan pada 27–30 April 2026 di Hongkong.
Pameran business-to-business (B2B) di sektor produk rumah tangga dan gaya hidup yang digelar oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) tersebut menjadi platform strategis yang mempertemukan produsen, desainer, distributor, dan buyer internasional dari berbagai negara.
Berdasarkan rilis resmi HKTDC, pameran Home InStyle mampu menarik sekitar 100.000 buyer global, dengan lebih dari 20.000 buyer berasal dari 131 negara dan wilayah. Tingginya partisipasi tersebut menjadikan ajang ini sebagai sarana penting untuk promosi, penjajakan kerja sama dagang, serta peningkatan peluang ekspor baik secara langsung maupun berkelanjutan melalui platform digital yang terintegrasi.
Menperin menyampaikan bahwa keikutsertaan IKM dalam ajang ini menjadi momentum strategis untuk memperluas jaringan kemitraan, meningkatkan ekspor, sekaligus memperkuat posisi produk kriya nasional dalam rantai pasok global. Dengan mutu, inovasi, dan kekayaan budaya yang dimiliki, produk kerajinan Indonesia dinilai memiliki prospek yang kuat untuk semakin diterima di pasar internasional.
“Melalui partisipasi ini, IKM kriya Indonesia memperoleh kesempatan untuk mempromosikan produk unggulan, menjajaki potensi kerja sama dagang, serta meningkatkan peluang transaksi ekspor secara langsung dan berkelanjutan,” tuturnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menambahkan bahwa kinerja ekspor kerajinan Indonesia menunjukkan capaian yang signifikan. Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor kerajinan mencapai USD 806,63 juta atau tumbuh sebesar 15,46 persen (year-on-year) dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 yang tercatat sebesar USD 698,62 juta.
“Kinerja ekspor kerajinan yang terus menunjukkan tren positif harus kita jaga dan harus bisa lebih ditingkatkan. Oleh karenanya, pemerintah mendorong IKM agar semakin terintegrasi dalam rantai pasok global melalui penguatan kualitas produk, inovasi desain, dan perluasan akses pasar,” ujar Reni.
Ia juga menjelaskan bahwa partisipasi BPIFK pada tahun 2026 merupakan kelanjutan dari kerja sama dengan Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) pada tahun sebelumnya yang mendapat respons positif dari pasar internasional.
“Produk kriya Indonesia berhasil menarik perhatian sejumlah buyer potensial, termasuk dari Amerika Serikat dan Jepang, sehingga semakin memperkuat keyakinan terhadap daya saing serta peluang ekspansi produk IKM nasional di pasar global,” imbuhnya.
Dalam pameran tersebut, terdapat tiga IKM terpilih yang telah melalui proses kurasi, yaitu Manamu, Kampoeng Anyaman, dan Koto Batu. Ketiganya mendapatkan fasilitasi unit booth yang berlokasi di area Cultural and Creative Avenue.
Selain itu, para peserta juga memperoleh dukungan Top-up Product Display Package untuk mengoptimalkan penataan dan daya tarik visual produk, serta fasilitas promosi melalui Default Online Package pada platform daring resmi pameran guna memperluas eksposur dan menjangkau buyer internasional secara lebih efektif.
Ketiga IKM tersebut menampilkan karakter produk kriya yang unik. Manamu menghadirkan seni kerajinan tenun tangan menggunakan kawat baja khas Sumba Timur yang dikenal dengan nama lulu amah, memadukan teknik tradisional dengan pendekatan desain kontemporer.
Sementara itu, Kampoeng Anyaman menampilkan produk anyaman daun pandan handmade yang mengedepankan kearifan lokal, kualitas pengerjaan, serta komitmen terhadap prinsip keberlanjutan lingkungan. Adapun Koto Batu menghadirkan perhiasan berbahan natural gemstones yang menonjolkan keindahan alami batu mulia dengan sentuhan estetika modern serta nilai filosofi yang kuat.
Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) Dickie Sulistya Aprilyanto menjelaskan bahwa partisipasi tersebut sejalan dengan penguatan ekosistem industri yang diusung BPIFK melalui konsep 3C, yakni Create, Connect, dan Catalyze.
“Partisipasi ini memperkuat ekosistem industri BPIFK melalui konsep 3C, khususnya pada aspek Connect, yaitu memperluas akses pasar ekspor dan jejaring kemitraan internasional. Kami berkomitmen untuk terus mendorong IKM binaan agar mampu naik kelas, berorientasi ekspor, dan berdaya saing di pasar dunia,” kata Dickie.