Harganya Melesat, BEI Suspen Perdagangan OKAS

Oleh : Abraham Sihombing | Jumat, 25 Agustus 2017 - 13:17 WIB · 1 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Transaksi perdagangan saham PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) disuspen (dihentikan sementara) oleh otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak sesi pertama perdagangan Jumat (25/08/2017) hingga ada pengumuman lebih lanjut.

Dalam keterbukaan informasi di Jakarta, Jumat (25/08/2017), Irvan Susandy, Kadiv Pengawasan Transaksi BEI, mengungkapkan suspensi ini dilakukan pihaknya sehubungan dengan peningkatan harga kumulatif yang signifikan.

Menurut data BEI, harga penutupan OKAS pada awal Agustus 2017 tercatat sebesar Rp67 per unit. Tetapi pada Kamis (24/08/2017), harga OKAS ditutup di posisi Rp176 per unit. Itu menunjukkan adanya kenaikan harga hampir 163% dalam waktu 17 hari perdagangan bursa.

Akan tetapi, transaksi OKAS selama tiga hari berturut-turut pada 22-24 Agustus 2017 mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Pada Selasa (22/08/2017), harga OKAS ditutup di posisi Rp102 per unit, atau naik sekitar 20% dibandingkan sehari sebelumnya sebesar Rp85 per unit.

Kemudian, transaksi OKAS pada Rabu (23/08/2017) ditutup pada level harga Rp137 per unit, atau meningkat hingga 34% dibandingkan sehari sebelumnya. Terakhir, harga OKAS pada perdagangan Kamis (24/08/2017) kemarin ditutup di posisi Rp176 per unit. Itu menunjukkan adanya kenaikan harga 28,5% dibandingkan hari sebelumnya.

Irvan juga menjelaskan, agar berbagai pihak yang berkepentingan dapat selalu mempertahankan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan terkait dengan suspensi perdagangan sahamnya tersebut. (Abraham Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →