Wujudkan RI Jadi Kekuatan Baru Industri Semikonduktor, Pemerintah Siapkan 15 Ribu SDM Kompeten

Oleh : Ridwan | Kamis, 05 Maret 2026 - 14:10 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah Indonesia menargetkan pengembangan besar-besaran talenta teknologi tinggi untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri semikonduktor dunia. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam acara Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 yang digelar di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta (5/3).

Dalam sambutannya, Airlangga menegaskan bahwa pembangunan ekosistem semikonduktor menjadi langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju target 8 persen yang dicanangkan pemerintah.

Menurutnya, negara maju tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, melainkan pada kualitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi tinggi.

“Pertumbuhan tinggi hanya bisa dicapai dengan pengelolaan sumber daya manusia yang kuat. Negara seperti Jepang, Korea, hingga Taiwan berhasil keluar dari middle income trap karena SDM dan teknologi,” ujar Airlangga.

Airlangga menjelaskan bahwa kawasan ASEAN tengah mengembangkan Digital Economic Framework Agreement (DEFA) untuk memperluas pasar ekonomi digital regional. Dengan skema tersebut, nilai ekonomi digital ASEAN diproyeksikan meningkat dari US$1 triliun menjadi US$2 triliun pada tahun 2030. Indonesia diperkirakan dapat mengambil sekitar 40 persen pangsa pasar, atau setara US$800 miliar (sekitar Rp12.800 triliun).

Besarnya potensi ini menuntut ketersediaan talenta digital yang besar, mulai dari energi terbarukan untuk infrastruktur digital, pembangunan data center, pengembangan artificial intelligence, hingga desain chip semikonduktor.

Menko Airlangga menyoroti bahwa dunia saat ini sedang memasuki fase “chip war” atau persaingan global dalam industri semikonduktor. Chip menjadi komponen utama dalam hampir semua teknologi modern, mulai dari smartphone, kendaraan listrik, hingga pusat data. Satu kendaraan listrik bahkan membutuhkan lebih dari 200 chip semikonduktor.

Permintaan global chip diperkirakan mencapai US$1 triliun pada 2030, didorong oleh perkembangan artificial intelligence, quantum computing, komunikasi nirkabel, elektronik otomotif

Airlangga mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya pernah masuk dalam rantai industri semikonduktor pada tahun 1980-an melalui perusahaan Amerika, Fairchild Semiconductor. Namun, industri tersebut kemudian berpindah ke negara lain seperti Malaysia setelah Indonesia menolak proses otomatisasi saat itu. Saat ini, Malaysia memiliki sekitar 200 perusahaan semikonduktor, menjadikannya salah satu pemain kuat di kawasan ASEAN bersama Singapura dan Vietnam.

“Indonesia sekarang mendapatkan second chance untuk kembali masuk ke ekosistem semikonduktor global,” kata Airlangga.

Sebagai langkah strategis, pemerintah menargetkan mencetak 15.000 engineer semikonduktor melalui berbagai program pelatihan dan kerja sama internasional. Program ini akan dijalankan bersama perusahaan teknologi global seperti Arm Holdings. Pelatihan dirancang dalam format jangka pendek 3–6 bulan per batch untuk mempercepat pengembangan talenta chip design di Indonesia.

Selain itu, pemerintah juga menggandeng sejumlah universitas internasional seperti: Purdue University, serta Arizona State University. Kerja sama ini bertujuan membangun kurikulum semikonduktor di perguruan tinggi Indonesia.

Airlangga juga meminta perguruan tinggi di Indonesia mulai mengembangkan program studi dan riset terkait semikonduktor antara lain, solid state physics, integrated circuit design, semiconductor fabrication, microelectronics engineering. Selain itu, kampus didorong untuk memperkuat laboratorium mikroelektronik dan mendorong startup berbasis chip design serta Internet of Things (IoT).

Pemerintah juga memberikan insentif pajak hingga 300 persen bagi perusahaan yang melakukan penelitian dan pengembangan (R&D) bersama perguruan tinggi.

Indonesia Tak Mau Hanya Jadi Pasar Teknologi

Dengan jumlah pengguna internet mencapai 230 juta orang dan penetrasi ponsel mencapai 116 persen, Indonesia memiliki pasar digital terbesar di ASEAN. Namun Airlangga menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi global.

“Kesempatan kedua ini tidak boleh dilewatkan. Kita harus masuk kembali ke dalam ekosistem semikonduktor dunia,” tegasnya.

Kunci Masa Depan: Talenta Teknologi

Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan gangguan rantai pasok, Airlangga menekankan bahwa ketahanan ekonomi ke depan sangat bergantung pada kemampuan inovasi dan pengembangan teknologi. Karena itu, generasi muda Indonesia—terutama para engineer—diharapkan mampu menjadi penggerak utama kemandirian teknologi nasional.

“Negara berharap para engineer dapat mengambil peran penting untuk membuat Indonesia mandiri di sektor semikonduktor,” pungkasnya.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →