Serangan Siber ke Industri Indonesia Diprediksi Meledak di 2026! AI Jadi Senjata Baru Penjahat Dunia Maya
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Transformasi digital yang melaju cepat di sektor industri Indonesia ternyata membawa ancaman baru yang tidak bisa dianggap remeh.
Fortinet, perusahaan keamanan siber global, melalui laporan Cyber Threat Predictions 2026, memperingatkan bahwa serangan siber terhadap sektor industri, terutama sistem Operational Technology (OT) akan meningkat drastis seiring masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh pelaku kejahatan siber.
Vice President of Marketing and Communications APAC Fortinet, Rashish Pandey menjelaskan bahwa sektor industri kini menjadi target paling menggiurkan bagi penjahat siber. Alasannya jelas, banyak sistem OT tidak memiliki perlindungan memadai, sementara potensi kerugiannya sangat besar.
“Pelaku kejahatan siber tidak lagi memilih target berdasarkan negara atau ukuran perusahaan. Mereka mencari celah paling mudah dan paling menguntungkan,” tegas Rashish.
Banyak pabrik di Indonesia sebelumnya beroperasi secara offline. Namun setelah modernisasi Industry 4.0, sistem robotik, sensor, SCADA, dan perangkat produksi kini terhubung internet. Transformasi ini, menurut Rashish, menciptakan “pintu masuk baru” bagi ancaman yang sebelumnya tidak pernah ada.
Menurutnya, ancaman tidak hanya menyasar manufaktur. Sektor energi dan pembangkit listrik, kesehatan, transportasi digital, utilitas publik termasuk kategori paling kritis.
Gangguan pada satu sistem saja bisa memicu krisis nasional. Ransomware menjadi ancaman paling mahal, karena perusahaan dapat merugi miliar rupiah hanya dalam hitungan jam ketika pabrik berhenti beroperasi.
Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim menegaskan bahwa kejahatan siber di sektor industri meningkat pesat karena AI kini digunakan untuk menemukan celah dan menjalankan serangan otomatis.
“Serangan yang dulu memakan waktu lama, kini bisa terjadi dalam hitungan menit,” ujar Edwin.
Ia menegaskan bahwa ancaman terbesar industri bukan lagi pencurian data, melainkan gangguan operasional. Ketika sistem produksi mati, seluruh rantai pasok ikut kolaps.
2026: Kombinasi AI + Cybercrime-as-a-Service
Rashish memperingatkan bahwa pada 2026, pola serangan akan didominasi dua tren besar yaitu, AI ofensif yang mampu mengeksekusi serangan secara otomatis 24/7, dan Cybercrime-as-a-Service, yakni paket serangan siap pakai yang bisa dibeli dengan harga murah.
Kini siapa saja bisa meluncurkan serangan OT tanpa perlu kemampuan teknis tinggi. Paket tersebut bahkan sudah dilengkapi modul khusus untuk menyerang sistem industri.
Industri Harus Tahu Mana Sistem Paling Vital
Edwin mengkritisi bahwa banyak perusahaan salah menentukan prioritas keamanan. Banyak yang menganggap ERP sebagai sistem paling kritis, padahal risiko terbesar justru berada pada kontrol mesin, antarmuka robot, sistem informasi produksi, dan jaringan sensor industri.
"Tanpa pemetaan risiko yang akurat, anggaran keamanan sering tidak efektif," jelasnya.
Edwin menekankan bahwa masa depan keamanan industri adalah AI defensif melawan AI ofensif. Perusahaan perlu mengadopsi deteksi ancaman real-time, otomatisasi respons, analitik data skala besar, serta perlindungan OT yang dirancang khusus untuk lingkungan industri.
Sistem pertahanan manusia tidak lagi cukup untuk melawan kecepatan serangan AI.
Indonesia Sudah Maju Digital, Tapi Belum Kuat di Keamanan
Menurut Rashish, transformasi digital industri Indonesia berjalan pesat, tetapi pertahanan sibernya belum mengikuti kecepatan modernisasi tersebut. Banyak perusahaan masih membangun tim dan sistem keamanan dasar. Namun ia optimistis karena tenaga teknis Indonesia dinilai tangguh dan cepat beradaptasi.
Fortinet menegaskan bahwa 2026 akan menjadi tahun kritis bagi sektor industri. Organisasi yang bergerak proaktif dan mengadopsi pertahanan siber berbasis AI akan menjadi yang paling siap bertahan.
Industri yang lalai bersiap akan menjadi target paling rentan di era serangan AI tanpa henti.