PMI Manufaktur RI Tembus 50,4! Lebih Kuat dari Jepang & Jerman, Jadi Mesin Ekonomi Baru Asia

Oleh : Ridwan | Rabu, 01 Oktober 2025 - 18:50 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan ketangguhannya di tengah badai perlambatan ekonomi global. 

Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2025 tercatat di level 50,4, tetap berada di zona ekspansi meski sedikit melambat dari Agustus (51,5). Capaian ini menegaskan daya tahan industri nasional. 

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa PMI Manufaktur Indonesia mampu bertahan dua bulan berturut-turut di atas ambang batas 50,0.

“Permintaan domestik yang kuat menjadi motor utama pertumbuhan, sementara permintaan ekspor masih cukup baik meskipun ada tekanan global,” ujar Agus di Jakarta, Rabu (1/10).

Data S&P Global memperlihatkan permintaan baru naik dua bulan beruntun, didorong konsumsi dalam negeri. Kondisi ini menjadi momentum emas bagi industri nasional untuk terus mengoptimalkan pasar domestik.

Apalagi, Kemenperin telah melakukan reformasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar produk nasional semakin terserap di pasar dalam negeri. Hal ini mendorong pelaku industri lebih percaya diri meningkatkan produksi sekaligus memperluas basis konsumen.

Menariknya, survei PMI juga mencatat ketenagakerjaan sektor manufaktur berada di level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kepercayaan bisnis bahkan mencapai titik tertinggi sejak Mei 2025, menandakan pelaku industri semakin optimistis menghadapi prospek pertumbuhan.

“Kenaikan penyerapan tenaga kerja adalah sinyal positif. Artinya pelaku industri bersiap menghadapi permintaan lebih baik, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja,” tegas Agus.

Kinerja sektor manufaktur juga mendapat dorongan dari kebijakan fiskal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak akan menaikkan cukai rokok tahun depan.

Kebijakan ini dianggap sebagai insentif besar bagi Industri Hasil Tembakau (IHT) yang berkontribusi signifikan pada penerimaan negara, ekspor, serta penyerapan tenaga kerja.

Menariknya, PMI Manufaktur Indonesia di September 2025 tercatat lebih tinggi dibandingkan Jepang (48,5), Jerman (48,5), Prancis (48,1), Inggris (46,2), Taiwan (46,8), Malaysia (49,8), dan Filipina (49,9). Artinya, industri nasional berhasil menjaga momentum pertumbuhan bahkan melampaui beberapa negara industri maju.

Untuk menjaga keberlanjutan, Kemenperin terus memperkuat hilirisasi, pengendalian impor bahan baku, diversifikasi ekspor, dan efisiensi rantai pasok.

“Kami optimistis sektor manufaktur ke depan masih positif. Dengan kebijakan yang tepat, kepercayaan diri pelaku usaha, serta pasar domestik yang kuat, industri Indonesia akan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional,” pungkas Agus.