Dari Nol Jadi Master Panen: Kisah Pak Bus, Petani Sayur Hulu Sungai Selatan yang Sukses Bawa 100 Petani Ikut Maju
INDUSTRY.co.id - Kalsel - Nama Bustami, atau akrab disapa Pak Bus, sudah melegenda di kalangan petani sayuran di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Di usianya yang kini 51 tahun, ia telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk dunia pertanian.
Sejak 1990, tanpa guru atau pelatihan formal, ia menekuni profesi sebagai petani dengan cara belajar otodidak: mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.
Titik balik datang pada tahun 2000, saat Pak Bus mengenal benih unggul Cap Panah Merah. Sejak itu, ia semakin percaya diri mengembangkan berbagai jenis sayuran, mulai dari Kacang Panjang GUARDA, Cabai Merah Besar PILAR F1, Tomat SERVO F1, Terong MUSTANG F1, Timun BATARA F1, hingga Melon GRACIA F1.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika Pak Bus menanam 1.500 tanaman Tomat SERVO F1. Dari lahan itu, ia berhasil memanen hingga 4,5 ton.
“Kalau kita sabar merawat tanaman dan pakai benih yang bagus, panen tidak akan mengecewakan,” ujarnya penuh keyakinan.
Dengan lahan seluas 2 hektar, Pak Bus tidak hanya menanam untuk kebutuhan keluarganya. Ia membuka pintu bagi petani lain untuk belajar pola tanam yang ia terapkan. Kini, ada sekitar 100 petani di sekitarnya yang ikut menanam benih unggul berkat dorongan dan bimbingannya.
Bagi Pak Bus, keberhasilan seorang petani bukan hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari seberapa besar dampak yang bisa diberikan pada komunitas.
“Kalau hanya saya yang berhasil, rasanya kurang lengkap. Saya senang kalau banyak petani lain ikut merasakan keuntungan dari bertani sayuran,” katanya.
Raih Gelar Master Panen
Dedikasi panjang itu akhirnya membuahkan pengakuan. Pak Bus dinobatkan sebagai Master Panen dari Cap Panah Merah, sebuah gelar yang diberikan kepada petani dengan dampak positif bagi lingkungannya. Meski begitu, ia tetap rendah hati.
“Gelar Master Panen ini bukan akhir, tapi motivasi buat saya. Saya ingin terus menanam, belajar, dan berbagi supaya lebih banyak petani bisa maju bersama,” ujarnya.
Selain belajar dari pengalaman pribadi dan komunitas, Pak Bus juga mengikuti Learning Farm Cap Panah Merah. Sekolah lapangan ini mempercepat pemahaman petani dalam mencoba teknik baru agar lebih modern dan efisien.
Menurutnya, pengalaman tersebut membuka wawasan tentang bagaimana bertani tidak hanya sekadar menanam, tetapi juga mengoptimalkan hasil dengan teknologi dan pengetahuan yang tepat.
Kini, Pak Bus menjadi inspirasi nyata bagi banyak petani di Kalimantan Selatan. Dari lahannya, ia tidak hanya menanam sayuran, tapi juga menanam semangat gotong royong dan kebersamaan.
Keuletannya membuktikan bahwa ketekunan, pengalaman, dan kemauan untuk berbagi bisa mengubah perjalanan hidup sekaligus mengangkat kesejahteraan banyak orang.