Gillette Musnahkan 1,5 Juta Pisau Cukur Tiruan, Langkah Tegas Lindungi Konsumen Indonesia dari Produk Palsu

Oleh : Nina Karlita | Senin, 29 September 2025 - 18:44 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Komitmen melindungi konsumen kembali dibuktikan oleh P&G Indonesia melalui merek Gillette. Perusahaan tersebut melakukan pemusnahan 1,5 juta produk pisau cukur palsu dan tiruan, menjadikannya sebagai salah satu pemusnahan terbesar di Indonesia.

Langkah besar ini merupakan hasil kerja sama antara Gillette Indonesia, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), dan Kepolisian Republik Indonesia. 

Upaya ini menjadi tindak lanjut nyata dalam menegakkan hukum terkait pelanggaran merek dagang serta melindungi masyarakat dari risiko penggunaan produk palsu yang tidak memenuhi standar keamanan.

Sebelumnya pada tahun 2023, Gillette telah memusnahkan 800.000 pisau cukur tiruan 3D Gillette. Tahun ini, jumlah produk tiruan yang berhasil diamankan meningkat hampir dua kali lipat.

Tarto Sudarsono, Kepala Seksi Kejahatan Lintas Negara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, mengapresiasi langkah Gillette Indonesia yang proaktif dalam melaporkan dan menindaklanjuti temuan produk tiruan.

“Kami mengapresiasi Gillette Indonesia yang kooperatif dalam menanggapi laporan pisau cukur tiruan yang menyerupai merek dagang Gillette. Pemusnahan ini penting agar barang palsu tidak kembali beredar di pasaran,” jelas Tarto.

Produk-produk tiruan tersebut ditemukan melalui pemantauan sistem Bea Cukai serta hasil inspeksi lapangan di pelabuhan dan gudang penyimpanan Tanjung Priok. Sebagian besar produk tidak memiliki izin edar dan meniru merek dagang Gillette secara ilegal. 

Mikhael Hintono, Brand Director Gillette Indonesia, menegaskan bahwa Gillette selalu menempatkan keamanan dan kualitas konsumen sebagai prioritas utama.

“Kami sangat menghargai dukungan Bea Cukai, PPNS, dan Kepolisian RI dalam menyita serta memusnahkan 1,5 juta produk tiruan. Kami mengimbau masyarakat untuk membeli produk asli Gillette di toko dan distributor resmi agar terhindar dari risiko produk palsu,” ujar Mikhael.

Produk tiruan diketahui tidak memiliki jaminan kualitas dan keamanan material, sehingga berpotensi membahayakan pengguna. Sebaliknya, seluruh produk resmi Gillette diproduksi dengan teknologi modern dan telah melalui proses uji kualitas yang ketat sesuai standar internasional.

Dalam kesempatan yang sama, Brigjen Pol. Arie Ardian Rishadi, Direktur Penegakan Hukum PPNS, menegaskan pentingnya kerja sama lintas lembaga dalam menangani pelanggaran hak kekayaan intelektual (HKI).

“Kami telah mengamankan sekitar 1,5 juta produk pisau cukur palsu dengan berbagai merek. Ke depan, kami akan terus memperketat pengawasan demi melindungi konsumen dan menegakkan aturan HKI di Indonesia,” ujar Arie.

Sementara itu, Elisabeth Stewart Bradley, Presiden International Trademark Association (INTA), menyatakan dukungannya terhadap langkah Gillette dan otoritas Indonesia.

“Kami mengapresiasi upaya Gillette Indonesia dalam menindak peredaran produk tiruan. Upaya seperti ini penting untuk memastikan konsumen mendapatkan produk yang aman dan asli,” tutur Elisabeth.

Tidak hanya menegakkan hukum, Gillette juga menunjukkan tanggung jawab lingkungan. Dalam proses pemusnahan, Gillette bekerja sama dengan Waste4Change, perusahaan manajemen sampah berkelanjutan, untuk memastikan limbah produk tiruan dikelola dan didaur ulang secara ramah lingkungan.

 

Nina Karlita

Redaksi

Nina Karlita adalah seorang jurnalis, penulis, dan aktif dalam kegiatan pemberdayaan perempuan di Indonesia bergabung di Majalah Industry sejak tahun 2014. - Jurnalis Ekonomi dan Bisnis: tercatat sebagai salah satu tim redaksi dan jurnalis aktif di media nasional Industry.co.id. - Tulisan-tulisannya banyak mengulas seputar perkembangan ekonomi, literasi, korporasi - Pernah menjadi Ketua Komunitas FoWarLife: Nina Karlita mengemban amanah sebagai Ketua FoWarLife (Forum Wartawan Lifestyle). Melalui organisasi ini, ia sering menginisiasi program pemberdayaan masyarakat. Salah satu kegiatannya yang menonjol adalah program Cooking Class for Business yang menggandeng perusahaan finansial teknologi untuk melatih puluhan wanita agar cakap dalam merintis usaha kuliner skala mikro.

Lihat semua artikel →