Menperin Agus: Investasi Manufaktur Tembus Rp366,6 Triliun, Serap 19,60 Juta Tenaga Kerja
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Industri pengolahan nonmigas (IPNM) atau manufaktur mencatatkan investasi sebesar Rp366,6 triliun pada semester I 2025. Kontribusi ini setara 39 persen dari total investasi nasional yang mencapai Rp942,9 triliun.
Sektor ini juga menyerap 19,60 juta tenaga kerja atau 13,45 persen dari total tenaga kerja nasional pada Februari 2025.
"Angka tersebut menjadi salah satu amunisi untuk membuat sektor manufaktur terus bertumbuh, sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta (3/8).
Selain itu, berdasarkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga menunjukkan kondisi yang terus positif dan terus-menerus ekspansif. IKI pada Agustus 2025 tercatat di level 53,55 atau ekspansif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor IPNM juga mencatat pertumbuhan 5,60 persen secara tahunan.
"Ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,12 persen. Angka ini memperlihatkan ekspansi yang sehat, selaras dengan perannya sebagai pilar utama ekonomi dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 16,92 persen," jelasnya.
Namun kalau dilihat dari utilisasi, lanjut dia, rata-rata utilisasi di sektor manufaktur atau IPNM pada Januari sampai Juli 2025, tercatat di angka 62,10%. Angka ini masih menunjukkan banyaknya ruang bagi manufaktur untuk dapat mengoptimalkan kapasitas produksi nasional atau kapasitas produksi di pabrik masing-masing.
“Oleh karena itu, strategi yang dibutuhkan adalah perluasan akses pasar, baik global maupun perlindungan akses pasar domestik, termasuk dengan cara penguatan kerja sama internasional dan juga promosi produk-produk nasional di kancah dunia,” imbuhnya.
Di sisi lain, ekspor IPNM berkontribusi sebesar 80 persen dari total ekspor nasional, di mana tercatat sebesar 128,13 miliar dolar AS. Ekspor nasional pada periode Januari-Juni 2025 mencapai 160,16 miliar dolar AS.
Menperin Agus menekankan bahwa sektor IPMN masih dapat terus dioptimalkan dengan meningkatkan kapasitas produksi nasional.
Di samping data kinerja IPNM di tahun 2025, Agus juga melaporkan data terkini Global Manufacturing Value Added (MVA) pada tahun 2024 yang dirilis oleh Bank Dunia. Adapun, nilai MVA Indonesia pada tahun 2024 mencapai US$265,07 miliar, jauh melampaui rata-rata MVA dunia yang sebesar hanya US$78,73 miliar.
“Pencapaian ini menempatkan Indonesia masuk ke dalam 15 negara dengan nilai MVA tertinggi. Tepatnya pada tahun 2024, kita sudah naik ke posisi ke-13 sebagai negara yang mencatat atau mencatat MVA tertinggi dunia,” kata Agus.
Di Asia Tenggara, lanjut Agus, tentu Indonesia pasti lebih tinggi dari negara-negara lain. Dan ranking kedua MVA di Asia Tenggara atau ASEAN, itu diduduki oleh Thailand, dengan jumlah atau nilai MVA hanya setengah dari jumlah atau nilai MVA yang dicatat oleh Indonesia.
“Kalau di Asia tentu kita masih di bawah Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. Tapi kami sangat meyakini dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, kalau kita bisa menerapkan kebijakan-kebijakan yang tepat untuk sektor manufaktur, kita akan mudah bisa menyusul negara-negara yang tadi saya sebut. Ada beberapa negara kami sudah hitung yang akan lebih mudah kita susul,” pungkasnya.