Mengapa Perusahaan di Indonesia Perlu Beralih ke Keamanan Workspace Terintegrasi

Oleh : Ridwan | Kamis, 28 Agustus 2025 - 15:27 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Lebih dari 60 persen perusahaan besar di Indonesia kini mengadopsi model kerja hybrid, yang memadukan kerja di kantor dan akses jarak jauh melalui berbagai perangkat. Namun, fleksibilitas ini membawa tantangan baru. 

Dari Januari hingga Juli 2025 saja, tercatat 3,64 miliar serangan siber dan anomali lalu lintas. Banyak di antaranya berasal dari endpoint maupun akun yang tidak terlindungi.

Ancaman juga tercatat di Ibu Kota Nusantara (IKN). Selama peringatan HUT ke-79 Kemerdekaan RI (10–17 Agustus 2024), sistem mendeteksi sekitar 16.362 anomali lalu lintas siber. Fakta ini menunjukkan bahwa ancaman digital tidak hanya mengintai pertahanan negara, tetapi juga sektor swasta.

Hanief Bastian, Regional Technical Head Indonesia menegaskan bahwa pendekatan keamanan lama sudah tidak memadai. 

“Banyak organisasi masih menggunakan berbagai solusi yang terpisah untuk endpoint, akses pengguna, dan monitoring. Kondisi ini membuat tim TI kewalahan dan visibilitas menjadi terbatas. Akibatnya, respons terhadap insiden sering terlambat dan risiko kebocoran data semakin besar,” jelasnya.

Tantangan Perusahaan di Era Hybrid Work

Empat tantangan utama yang kini dihadapi organisasi antara lain:

1. Fragmentasi alat keamanan. Terlalu banyak tools yang tidak terintegrasi membuat investigasi insiden menjadi lambat.

2. Kurangnya visibilitas. Akses jarak jauh dari berbagai perangkat sulit dipantau secara real time.

3. Tuntutan regulasi. UU Perlindungan Data Pribadi (PDP) dan POJK 29/2022 mengharuskan perusahaan mampu melakukan logging dan audit cepat.

4. Kelelahan tim TI. Operasi manual dan alat terpisah membuat beban kerja tinggi dan fokus strategis berkurang.

Menurut Hanief, tantangan tersebut tidak bisa lagi diselesaikan dengan menambah satu per satu produk keamanan baru. 

“Perusahaan butuh satu platform terintegrasi yang bisa melindungi pengguna, perangkat, dan data secara menyeluruh. Integrated workspace security memberikan visibilitas penuh dan kontrol yang lebih efektif dalam satu dashboard,” ujarnya.

Integrated Workspace Security: Satu Platform, Banyak Fungsi

Pendekatan integrated workspace security menyatukan manajemen endpoint, identitas dan akses (IAM), kontrol perangkat dan aplikasi, serta monitoring ke dalam satu sistem terpusat.

Manfaat utamanya antara lain:

1. Visibilitas terpusat. Semua endpoint, pengguna, dan aktivitas akses dipantau dari satu dashboard.

2. Respons cepat. Endpoint bisa diisolasi otomatis jika ada anomali.

3. Efisiensi. Tim TI tidak lagi harus mengelola banyak solusi berbeda.

4. Siap audit. Logging otomatis, audit trail, MFA, hingga RBAC mendukung kepatuhan UU PDP.

5. Skalabilitas. Platform mampu mendukung ribuan perangkat dan user tanpa mengubah infrastruktur besar.

Hanief menambahkan, dengan platform terintegrasi, organisasi bisa lebih cepat mendeteksi anomali, mengotomatiskan respons, dan memastikan kepatuhan regulasi tanpa menambah beban kerja tim TI.

Penerapan Bertahap

Setiap perusahaan memiliki kebutuhan berbeda. Transisi ke sistem keamanan terintegrasi bisa dilakukan secara bertahap, misalnya:

1. Mulai dari endpoint dan akses pengguna. Amankan perangkat kerja dengan patching, MFA, dan reset password mandiri.

2. Kendalikan akses istimewa. Rekam aktivitas admin atau developer dengan sistem privileged access management.

3. Monitoring dan audit. Pusatkan log, deteksi anomali, dan permudah reporting kepatuhan.

4. Perlindungan mobile dan remote. Kelola BYOD dan berikan dukungan IT jarak jauh yang aman.

5. Integrasi penuh. Semua fungsi dikelola dari satu konsol, menyatukan notifikasi dan reporting.

Menuju Ketahanan Digital Indonesia

Seiring roadmap Indonesia menuju transformasi digital, kebutuhan akan sistem keamanan terintegrasi semakin mendesak. Dengan pertumbuhan jumlah perangkat, akses jarak jauh, serta meningkatnya ancaman, perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan “banyak alat” yang terpisah.

“Keamanan tidak boleh dipandang sekadar biaya tambahan. Ia adalah investasi strategis yang akan menentukan ketahanan digital perusahaan. Dengan pendekatan terintegrasi, organisasi bisa lebih efisien, lebih patuh regulasi, sekaligus siap tumbuh di tengah ekosistem digital Indonesia,” tutup Hanief.