Merck Perkuat Akses dan Empati dalam Perawatan Fertilitas di Indonesia, Rayakan Hari Bayi Tabung Sedunia 2025
INDUSTRY.co.id - Jakarta — Dalam rangka memperingati World IVF Day (Hari Bayi Tabung Sedunia) yang jatuh pada 25 Juli, PT Merck Tbk kembali menegaskan peran pentingnya sebagai pionir dalam bidang fertilitas dengan memperkuat komitmennya terhadap akses perawatan bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) yang terjangkau, inklusif, dan berfokus pada kebutuhan pasien.
Dengan pengalaman lebih dari satu abad di bidang perawatan fertilitas global, Merck mengedepankan pendekatan yang tidak hanya berbasis teknologi Assisted Reproductive Technology (ART), tetapi juga dilandasi oleh empati dan komunikasi yang transparan kepada pasien.
Evie Yulin, President Director PT Merck Tbk, menyatakan bahwa Merck sangat bangga bisa menjadi bagian dari 6 juta kelahiran di dunia melalui teknologi ART. “Kami teguh terhadap misi membantu para ahli IVF menciptakan hasil yang lebih baik dan memberikan kepuasan bagi pasien. Tahun ini, kami merayakan semangat ‘One Team, One Mission: #AsOneForPatients’,” tegasnya.
Merck menyoroti pentingnya perluasan akses terhadap perawatan fertilitas, terutama di Indonesia, di mana sekitar 10-15% pasangan menghadapi masalah infertilitas. Dengan angka kelahiran nasional (TFR) yang turun dari 3,10 pada 1990 menjadi 2,15 di 2024, Merck memandang IVF sebagai solusi strategis dalam menjaga pertumbuhan populasi yang sehat dan produktif.
Untuk menjawab tantangan keterjangkauan, Merck aktif mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan penyedia asuransi nasional dan swasta, agar semakin banyak pasangan bisa menjalani program fertilitas tanpa terbebani biaya tinggi.
“Fertilisasi harus menjadi hak semua orang,” ujar Evie. “Melalui kemitraan strategis ini, kami berharap lebih banyak pasangan di Indonesia bisa mewujudkan impian menjadi orang tua.”
Komitmen Merck juga terlihat dalam fokusnya terhadap *patient-centric approach*. Merck menyediakan berbagai alat bantu komunikasi dan survei untuk membantu tenaga medis memahami pengalaman emosional dan logistik pasien selama menjalani IVF.
Prof. Dr. dr. Hendy Hendarto, SpOG, Subsp. FER, selaku Ketua Perhimpunan Fertilisasi In Vitro Indonesia (PERFITRI), menekankan pentingnya pergeseran paradigma dalam layanan fertilitas. “Kita perlu memprioritaskan komunikasi yang empatik dan transparan, bukan hanya teknologi medis. Keberhasilan IVF ditentukan oleh rasa nyaman dan kepercayaan pasien,” katanya.
Senada dengan itu, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, Ketua Umum PP POGI, menambahkan bahwa Indonesia telah memiliki dokter dan klinik IVF berstandar internasional, sehingga tantangan selanjutnya adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan ini.
Dalam upaya membangun ekosistem fertilitas yang lebih kuat, Merck baru-baru ini menggelar 7th Indonesia Learning Initiative for Fertility Experts (LIFE) dengan tema “Advancing the Journey in ART”. Acara ini mempertemukan 340 ahli fertilitas, perawat, manajer klinik, konselor, hingga komunitas pasien untuk merumuskan definisi baru tentang keberhasilan dalam program IVF.
Wenny Aurelia, Founder & Chairwoman Endometriosis Indonesia, menekankan pentingnya edukasi dan dukungan emosional sejak awal. “Pasien tidak hanya berjuang secara fisik, tapi juga mental. Klinik dan tenaga medis perlu mengedepankan empati dan transparansi,” ucapnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan internal, Merck juga menghadirkan Fertility Benefit Program bagi karyawannya. Program ini menyediakan dukungan finansial sekaligus pendampingan emosional bagi karyawan yang tengah berjuang untuk memiliki anak.
“Yang paling dicari pasien adalah empati yang tulus, bukan hanya pengobatan,” tutup Evie Yulin.