Tanah Adat di Halmahera Timur Rusak Diduga Akibat Tambang Nikel, Warga dan Publik Figur Angkat Suara

Oleh : Nina Karlita | Kamis, 24 Juli 2025 - 15:20 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Halmahera Timur – Warga Halmahera Timur, Maluku Utara, harus menghadapi kerusakan parah pada tanah adat mereka diduga akibat aktivitas pertambangan nikel sebuah perusahaan.

Sejak mulai beroperasi pada tahun 2024, perusahaan telah menuai berbagai keluhan dari masyarakat sekitar.

Aktivitas tambang yang dilakukan diduga menyebabkan kerusakan alam, pencemaran air, hingga eksploitasi tanah adat.

Situasi ini semakin memanas setelah beredar video yang memperlihatkan kondisi rusaknya alam Halmahera Timur, yang mengarah kuat kepada aktivitas tambang.

Dalam laporan tim pemantau lingkungan yang turun ke lapangan pada Februari 2025, ditemukan adanya pembukaan lahan secara ilegal di wilayah yang merupakan tanah adat milik masyarakat lokal.

Aktivitas ini dilakukan tanpa persetujuan masyarakat adat, sehingga memicu kemarahan warga yang merasa dirampas haknya.

Akibat pengerukan tanah untuk tambang nikel, tanah subur hilang dan berdampak langsung pada kehidupan warga yang menggantungkan hidup dari alam sekitar.

Tak hanya mengalami kerusakan lingkungan, masyarakat yang berusaha melakukan protes terhadap kerusakan ini justru mengalami intimidasi.

Beberapa warga mengaku dihadang oleh aparat bersenjata saat ingin menyuarakan penolakan terhadap aktivitas tambang tersebut. Mereka merasa suara mereka dibungkam, padahal hanya ingin mempertahankan hak atas tanah leluhur.

“Kami kehilangan tanah yang seharusnya bisa kami wariskan ke anak cucu. Sekarang, bahkan untuk bersuara pun kami dihalangi,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Situasi ini juga menarik perhatian publik figur. Komika dan konten kreator Gianluigi Christoikov menyuarakan keprihatinannya.

Dalam pernyataannya kepada media, ia menyebut bahwa sangat tidak adil jika masyarakat yang berjuang untuk tanahnya sendiri justru dibungkam.

“Mereka hanya bersuara demi tanah adat yang telah dicemari. Mengapa mereka harus ditahan?” ujar Gianluigi saat dihubungi, Rabu (23/7).

“Aneh zaman sekarang. Tanah dirampas, alam dirusak, kok warga dibungkam?” lanjutnya.