Gunawan Tjokro Dorong Kolaborasi Kampus dan Industri: Kunci Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh : Nina Karlita | Kamis, 19 Juni 2025 - 17:40 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta — Kesenjangan antara dunia kampus dan industri dinilai masih menjadi tantangan besar dalam memajukan Indonesia. Gunawan Tjokro, Komisaris Utama PT Dynaplast dan pelaku industri nasional, menegaskan bahwa jalinan antara ilmu dan industri adalah ufuk yang harus terus menyala agar Indonesia mampu bersaing di era global dan menyongsong Indonesia Emas 2045.

"Kita punya ribuan kampus, tapi banyak lulusan belum siap kerja," ujar Gunawan saat ditemui di Jakarta baru-baru ini.

Dengan lebih dari 3.500 perguruan tinggi, Indonesia ibarat ladang talenta yang subur, namun sayangnya belum terhubung kuat dengan kebutuhan dunia kerja. Menurut Gunawan, sinergi antara industri dan pendidikan tinggi bukan lagi wacana, tetapi sebuah kebutuhan mendesak.

Sebagai mantan profesional di PT Kalbe Farma Tbk dan PT Unilever Indonesia Tbk, serta saat ini memimpin PT Dynaplast—perusahaan manufaktur plastik terkemuka—Gunawan menyampaikan bahwa biaya tinggi dalam pelatihan karyawan baru dapat ditekan melalui kolaborasi strategis antara dunia kampus dan dunia usaha.

Ia menyoroti pentingnya penyelarasan kurikulum pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Menurutnya, program seperti Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sudah menjadi langkah awal yang tepat, karena membuka kesempatan mahasiswa untuk belajar langsung di industri melalui magang.

“Magang itu jembatan bagus. Mahasiswa mengenal dunia nyata, bukan sekadar teori di kelas,” tegasnya.

Gunawan juga menggarisbawahi peluang besar dari hasil riset kampus. Sayangnya, banyak inovasi akademik tidak sampai ke industri karena kurangnya jembatan hilirisasi. Industri, katanya, sebenarnya butuh solusi berbasis riset, tapi selama ini tidak semua perusahaan sanggup membangun pusat R&D sendiri.

“Riset kampus itu permata, tapi perlu dipoles industri agar bisa dieksekusi,” jelasnya.

Merujuk data BPS 2024, sebanyak 842.378 lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih menganggur. Gunawan menilai, ini sinyal kuat bahwa sistem pendidikan dan dunia kerja masih belum terkoneksi dengan baik.

“Pendidikan bukan sekadar mengisi bejana, tapi harus menyulut api. Api itu adalah semangat berinovasi dan kolaborasi,” katanya, mengutip filosofi pendidikan dari Plato.

Sebagai anggota Majelis Wali Amanat Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan pendiri PT Gunanusa Eramandiri Tbk (GUNA), Gunawan juga mendorong agar program "Praktisi Mengajar" dijalankan lebih luas sebagai bentuk kontribusi sosial industri.

Ia mendukung pemberian insentif pajak berupa super deduction tax untuk perusahaan yang terlibat dalam program ini, sebagaimana diatur dalam PP No. 45 Tahun 2019. Hal ini diharapkan mendorong lebih banyak perusahaan berbagi pengetahuan di ruang kelas.

Tantangan utama dari kolaborasi ini, menurut Gunawan, adalah perbedaan orientasi: industri bersifat pragmatis, sementara akademisi lebih teoretis. Untuk menjembatani gap ini, ia mengusulkan adanya penyelarasan regulasi antara Kemendikbud dan Kemenperin serta pembentukan forum lintas sektor untuk membangun visi bersama.

“Industri dan kampus harus saling rangkul. Inilah kunci agar daya saing Indonesia diperhitungkan di dunia,” pungkasnya.