Produsen Otomotif Asal China dan Eropa Minat Investasi Kendaraan Listrik di Tanah Air

Oleh : Ridwan | Selasa, 20 Mei 2025 - 15:32 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Sejumlah perusahaan otomotif asal China dan Eropa menyatakan minatnya untuk berinvestasi pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan baterai EV di Indonesia.

Ramainya perusahaan asal China dan Eropa untuk berinvestasi di Indonesia imbas tarif importasi yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS).

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian, Tunggul Mahardi Wicaksono mengatakan, adanya perang tarif tidak selalu membawa dampak negatif saja. Hal ini dibuktikan dengan adanya keinginan kerja sama beberapa perusahaan China dan Eropa untuk menanamkan modalnya di Tanah Air.

"Ada beberapa produsen dari industri otomotif listrik maupun baterai listrik dari China yang sudah mulai diskusi dengan kami, dan dari Eropa juga sudah ada," kata Tunggul Mahardi di Jakarta (19/5).

Adapun, untuk nilai investasi, dia menyebut masih sedang dalam tahap disikusikan. Meski demikian, pada prinsipnya perusahaan yang menanamkan modalnya di Indonesia berkeinginan melanjutkan dan memindahkan investasinya ke Tanah Air.

"Prinsipnya masih penjajakan awal, karena mereka punya teknologi kendaraan listrik, motor listrik. Mereka lagi mengkaji, bagaimana kalau memindahkan dan meneruskan investasinya di Indonesia," terangnya.

Saat ini, terdapat sembilan perusahaan yang memproduksi mobil listrik dengan jumlah kapasitas produksi sebanyak 70.060 unit per tahun dan investasi sebesar Rp 4,12 triliun. 

Sementara itu, ada 63 perusahaan yang memproduksi sepeda motor listrik roda dua dan tiga, dengan jumlah kapasitas produksi sebanyak 2,28 juta unit per tahun dan total investasi sebesar Rp 1,13 triliun.

Ada pula tujuh perusahaan yang memproduksi bus listrik, dengan jumlah kapasitas produksi sebanyak 3.100 unit per tahun dan total investasi sebesar Rp 0,38 triliun. Jadi, keseluruhan investasi tersebut sebesar Rp5,63 triliun. 

“Investasi ini yang perlu dijaga, karena membawa multiplier effect bagi perekonomian nasional, termasuk pada peningkatan jumlah tenaga kerja di Indonesia,” tuturnya.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →