Gajah Tunggal Tetapkan Bunga Obligasi Global 8,375% per Tahun

Oleh : Abraham Sihombing | Selasa, 15 Agustus 2017 - 13:12 WIB · 1 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Manajemen PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), salah satu produsen ban kendaraan bermotor di Indonesia, menetapkan bunga sebesar 8,375% per tahun untuk penerbitan obligasi global bernilai US$250 juta.

Menurut prospektus GJTL yang diterbitkan Selasa (15/08/2017), obligasi global berjangaka lima tahun ini akan dicatatkan di Bursa Efek Singapura. Karena itu, obligasi global ini akan jatuh tempo pada 2022 dan pembayaran bunga obligasi tersebut akan dilakukan setiap enam bulan sekali.

Prospektus tersebut menginformasikan, perseroan akan menggunakan dana hasil penerbitan obligasi tersebut untuk membiayai kembali (refinancing) surat utang berjaminan 2013 (senior secured note 2013) bernilai US$500 juta.

Disamping penerbitan obligasi, GJTL juga memperoleh fasilitas pinjaman untuk melunasi utang yang bakal jatuh tempo ada 2018. Pinjaman baru tersebut terdiri dari dua bagian, yakni pinjaman dalam dolar AS bernilai US$210 juta dan pinjaman dalam rupiah senilai Rp534,2 miliar. Perjanjian fasilitas pinjaman ini sudah ditandatangani pada 28 Juli 2017.

Pinjaman itu dikenakan bunga sesuai dengan jenis denominasi mata uang masing-masing. Untuk pinjaman dollar AS dari kreditur dalam negeri, tingkat bunganya sebesar 5,3% per tahun plus LIBOR.

Sementara itu, fasilitas pinjaman dalam bentuk dollar AS dari kreditur asing mematok bunga 4,95% per tahun plus LIBOR. Kemudian, fasilitas pinjaman dalam kurs rupiah mematok bunga pinjaman sebesar 4,1% plus JIBOR. (Abraham Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →