Motorola Comeback, Pakar Pemasaran IMSC: Strategi yang Tepat Jadi Kunci dalam Memenangkan Persaingan Pasar!

Oleh : Kormen Barus | Kamis, 20 Februari 2025 - 17:44 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Setelah satu dekade  meninggalkan pasar smartphone Indonesia, kini Motorola kembali dengan target yang sangat ambisius, yakni masuk ke lima besar dengan perolehan 10% pangsa pasar hanya dalam waktu tiga tahun.

"Kami menargetkan pertumbuhan double digit dengan pangsa pasar 10% sehingga menempati lima besar merek smartphone di Indonesia," kata Bagus Prasetyo, Country Head Motorola Indonesia, saat memperkenalkan produk terbarunya, Moto G 45 5G, di Jakarta, Selasa (18/2).

Untuk itu, Motorola Indonesia menerapkan berbagai strategi, termasuk menawarkan produk-produk yang berdesain elegan dengan pendekatan local for local melalui investasi pada tim lokal, melibatkan manufaktur dan bahan baku lokal, serta kampanye pemasaran yang disesuaikan pasar lokal.

Menanggapi kembalinya Motorola ke pasar smartphone Indonesia, Purjono Agus Suhendro, pakar pemasaran dari Indonesia Marketing Strategy Consultant (IMSC), berpendapat, Motorola memiliki brand image yang baik di pasar smartphone global, termasuk Indonesia, sampai saat ini.

"Brand image yang baik itu bisa menjadi modal utama untuk kembali mencuri ceruk pasar smartphone di negeri ini. Apalagi, pasar masih mengira smartphone Motorola berasal dari Amerika yang terkenal akan kualitas produknya, meskipun sebenarnya sudah di bawah kendali Lenovo asal Tiongkok," katanya.

Purjono menambahkan, pasar Indonesia masih menganggap produk Tiongkok merupakan produk kelas dua di bawah produk asal Negeri Paman Sam atau Eropa, sekalipun kualitasnya tak perlu diragukan lagi. Pasar Indonesia juga memandang biasa saja terhadap kualitas produk keluaran dalam negeri.

Untuk itu, tetap dianggap sebagai merek Amerika dan dimiliki oleh perusahaan Tiongkok merupakan keuntungan tersendiri yang seharusnya bisa menjadi tonggak bagi Motorola dalam meramu strategi pemasaran (marketing strategy)-nya di Indonesia.

"Jadi, sekalipun dirakit di Indonesia dan telah memenuhi standar bahan baku lokal, akan lebih baik kalau Motorola tidak terlalu mengampanyekan local for local atas pertimbangan karakteristik pasar lokal tadi, melainkan lebih mengedepankan sebagai global brand from USA yang lebih dipercaya," jelasnya.

Lalu, yang tak kalah penting, pastikan di mana positioning Motorola. Jika mau menyasar segmen menengah-bawah, ceruk pasarnya memang besar tetapi harus diingat bahwa persaingannya juga sangat ketat. Buktinya, Samsung, Oppo, dan Vivo yang sebelumnya menduduki posisi pemimpin pasar secara bergantian, tahun lalu sudah tergeser oleh Transsion yang lebih baru masuk ke pasar Indonesia. Jadi, strategi pemasaran menjadi kunci dalam memenangkan persaingan.

Berdasarkan data teranyar IDC, permintaan pasar smartphone Indonesia sepanjang 2024 mencapai 40 juta unit, tumbuh 15,5% dibanding tahun sebelumnya. Transsion, perusahaan asal Tiongkok yang mengusung merek Infinix, Tecno, dan Itel, berhasil merangsek ke posisi teratas dengan pangsa 18,3%, mengalahkan Oppo yang memperoleh 17,8%; Samsung 17,2%; Xiaomi 16,5%, dan Vivo 15,3%.

Kormen Barus

Pimpinan Redaksi

Kormen Barus adalah seorang jurnalis dan editor senior yang saat ini dikenal sebagai Pimpinan Redaksi di media portal berita nasional ⁠Industry.co.id. Ia juga memiliki rekam jejak sebagai jurnalis untuk portal Infomoneter dan Redaktur Pelaksana di Majalah Business Review. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia adalah penulis yang telah menerbitkan karya di bidang lingkungan, seperti buku yang berjudul "Desa Mandiri Menuju Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

Lihat semua artikel →