Menperin Minta Pelaku Usaha Industri Tetap Perhatikan Hak dan Kesejahteraan Karyawan

Oleh : Ridwan | Senin, 10 Juli 2017 - 06:18 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Sektor Industri khususnya tekstil dan ritel saat ini sedang menghadapi lesunya permintaan akibat daya beli masyarakat yang menurun. Untuk itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meminta pelaku usaha di sektor industri tetap memperhatikan hak dan kesejahteraan karyawan.

"Bila memang suatu industri terpaksa tutup akibat kendala keuangan atau sisi ekonomi dan bisnis yang tak lagi sesuai target, maka proses pemutusan hubungan kerja (PHK) tetap sesuai aturan yang berlaku. Kalau nggak sustain ya opsinya harus sesuai peraturan ya," ujar Airlangga di Jakarta (9/7/2017).

Menanggapi lesunya usaha di sektor ritel, khususnya setelah raksasa ritel 7-Eleven tutup sejak akhir Juni lalu, Airlangga berharap karyawan yang eks-sevel bisa beralih ke sektor industri lain. "Kan kita tidak terlalu bergantung pada industri 7-Eleven," katanya.

Disisi lain, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat, kinerja pertumbuhan ritel yang melambat sudah terlihat sejak awal 2017 ini. Pertumbuhan ritel modern pada Januari 2017 hanya sebesar 4,4 persen. Angka ini kemudian menurun di Februari dengan angka pertumbuhan hanya sebesar 1,1 persen. Pada Maret 2017 pertumbuhan ritel sempat melonjak ke angka 5,6 persen, tetapi kembali menurun ke angka 4,1 persen di April. Bulan berikutnya, Mei, pertumbuhan ritel kembali terperosok ke angka 3,6 persen. Sebagai pembanding, angka pertumbuhan ritel pada Mei 2016 lalu sempat menyentuh 11,1 persen.

Sementara spesifik pada pekan pertama dan kedua Juni 2017, Aprindo justru mencatat adanya penurunan tingkat penjualan untuk semua ukuran ritel. Untuk hypermarket misalnya, penjualan tercatat tumbuh minus 12,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara untuk supermarket dan minimarket masing-masing tumbuh minus 11,5 persen dan minus 1,3 persen.

Aprindo memprediksi pertumbuhan ritel pada 2017 hanya mampu menyentuh rentang 5-6 persen. Padahal, pertumbuhan ritel pada 2016 lalu tercatat mencapai 9,2 persen dan pertumbuhan tahun 2015 sebesar 8,4 persen.

Aprindo menjelaskan, yang dimaksud pertumbuhan adalah gabungan dari rata-rata 5 format ritel di Indonesia, yakni minimarket, supermarket, hypermarket, department store, specialty store, dan whole seller atau kulakan.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →