Hari ini, Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Tertekan Hasil Rapat FOMC

Oleh : Abraham Sihombing | Kamis, 06 Juli 2017 - 12:32 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis (06/07/2017). Itu terjadi karena hasil rapat (notulen) kebijakan moneter Federal Open Maket Committee (FOMC) menyiratkan rencana berlanjutnya kenaikan suku bunga di negeri Paman Sam tersebut.

Notulen tersebut berisi kecemasan para anggota FOMC, yaitu jika komite pasar terbuka Amerika tersebut terus-menerus mempertahankan kebijakan pelonggaran moneter dalam waktu yang lama, maka hal tersebut diperkirakan bakal mengancam stabilitas keuangan di Amerika.

Menurut Putu Agus Pransuamitra, analis pasar uang PT Monex Investindo, notulen FOMC tersebut pada akhirnya memberikan indikasi adanya rencana bank sentral AS, The Federal Reserve, untuk kembali menaikkan tingkat suku bunga pada tahun ini.

“Kendati demikian, kenaikan tingkat suku bunga tersebut nantinya harus dijelaskan berdasarkan berbagai data ekonomi yang dirilis, khususnya data laju inflasi. Pasalnya, notulen tersebut menunjukkan adanya korelasi yang peka antara kenaikan tingkat suku bunga dengan kenaikan laju inflasi di Amerika,” papar Putu di Jakarta, Kamis (06/07/2017).

Sementara itu, demikian Putu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika juga tertekan setelah Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi di triwulan kedua 2017 ini akan lebih rendah dibandingkan dengan yang diprediksikan sebelumnya.

“Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak pada kisaran 13.340 hingga 13.400 per dolar Amerika,” pungkas Putu. (Abraham Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →