IHSG Diprediksi Masih Rawan Terkena Profit Taking

Oleh : Abraham Sihombing | Rabu, 05 Juli 2017 - 09:48 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (05/07/2017) diperkirakan masih mengalami jenuh beli (overbought) yang berkepanjangan sehingga masih rawan terkena aksi jual untuk ambil untung (profit taking) yang dilakukan para pelaku pasar.

“Setelah mencapai level tertinggi sepanjang sejarah berdirinya BEI di level 5.910 pada dua hari yang lalu, IHSG mengalami overbought sejak kemarin. Kondisi itu diperkirakan bakal dimanfaatkan para pelaku pasar untuk melakukan ambil untung (profit taking),” ujar Yuganur Wijanarko, analis PT KGI Sekuritas Indonesia, di Jakarta, Rabu (05/07/2017).

Kendati demikian, menurut Yuganur, jika aksi profit taking terjadi kembali, maka pelaku pasar disarankan untuk mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dan saham lapis kedua (secondliners) pilihan untuk mendukung IHSG melanjutkan kenaikannya hingga mencapai titik resistensi psikologis berikutnya di level 6.000.

Yuganur menyarankan pelaku pasar untuk mengakumulasi saham-saham PT Bank Jatim Tbk (BJTM), PT Astra International Indonesia Tbk (ASII), PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

Saham-saham BJTM, ASII dan WSKT saat ini sedang masuk dalam pola perbaikan tren harga untuk jangka pendek dan menengah. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan karena berpeluang mengalami kontinuasi kenaikan harga berikutnya. Karena itu, tidaklah berlebihan jika BJTM berpotensi mencapai rentang harga Rp680-705 per unit. Sementara itu, ASII dan WSKT memiliki kemungkinan mencapai kisaran harga Rp8.975-9.175 per unit dan Rp2.450-2.550 per unit.

Sementara itu, penurunan harga berbagai komoditas ke titik terendah salam 10 tahun terakhir ini sehingga membuat valuasi harga-harga secara sektoral menjadi murah, membuat LSIP menjadi menarik untuk dikoleksi. Saham produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ini diproyeksikan mencapai rentang harga Rp1.520-1.620 per unit. (Abraham Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →